Minggu, 02 September 2012

Kelenteng Sumber Naga Di Kota Probolinggo


Gerbang kelenteng yang satu ini tampak unik dan berbeda. Walau ada ornament sepasang naga di kanan dan kirinya, namun gerbang kelenteng itu cukup tersamarkan karena terdapat ornament yang khas berbentuk Stupa seperti yang ada di Candi Borobudur.

 
Seperti tulisan yan ada di bagian atas gerbang itu yaitu Kelenteng Tri Dharma dengan hiasan lambang Tri Dharma yaitu Yin Yang, Swastika dan Genta Rohani, penggunaan gerbang dengan bentuk Stupa ini untuk menggambarkan bahwa kelenteng Sumber Naga ini merupakan tempat ibadah bagi umat Tri Dharma.

Gerbang kelenteng itu terdapat di kelenteng Sumber Naga yang berada di Kota Probolinggo – Jawa Timur. Lokasinya tak jauh dari alun-alun atau pasar besar  di kota ini.

 
Kelenteng Sumber Naga ini cukup indah dan menarik dengan berbagai ornament , hiasan dan perlengkapannya. Lilin  dalam berbagai ukuran dan lampion dalam berbagai bentuk tampak menghiasi kelenteng ini. Begitu juga dengan bau harum hio atau dupa senantiasa menguar dari dalam ruangannya.

Kelenteng ini sebenarnya bernama Liong Tjwan Bio yang berarti Kelenteng Sumber Naga. Penggunaan nama dalam bahasa Indonesia itu dilakukan sejak masa pemerintahan Orde Baru. Konon, kelenteng Sumber Naga ini sudah ada sejak tahun 1865 dengan Kong Co  Tan Hi Jin sebagai sesembahan utamanya.

Di halaman tengah terdapat sebuah panggung mini untuk pentas kesenian wayang potehi.
Kelenteng Sumber Naga terdiri dari beberapa ruangan. Ruangan yang berada di sebelah kiri merupakan ruangan Tri Darma. Di dalam ruangan terdapat tiga altar untuk Nabi Lao Tze, Budha Sakyawuni dan Nabi Kong Hu Cu.

Sedangkan di sebelah kanan terdapat ruangan altar untuk persembahan Kong Co Kwan Sing Tee Koen atau Dewa Kwan Kong. Di dekat ruangan ini terdapat ruangan untuk kantor dan tata usaha.

Pada dinding depan  ruangan Kwan Sing Tee Koen terdapat lukisan Kwan Sing Tee Koen dan ornamen bergambar naga dan harimau dalam warna emas.

Ruangan utama kelenteng Sumber Naga berada di bagian tengah. Di dalam ruangan utama kelenteng inilah terdapat arca Kong Co Tan Hu Cin Jin. Karena merupakan tempat ibadah, arca Kongso Tan Hu Cin Jin di  ruangan utama kelenteng dengan berbagai aktifitas ibadahnya ini tidak diperbolehkan untuk difoto.
--------------------------------------------------------------------------------------------------------

Break Session :






================================================================

Seperti kelenteng Tjoe Tik Kiong di Pasuruan dan kelenteng Hok Swie Bio di Bojonegoro, di kelenteng Sumber Naga juga terdapat lukisan-lukisan kuno dengan kisah tentang sejarah dan legenda Tingkok kuno. Lukisan-lukisan dengan menggunakan media kertas dan tinta hitam itu terpajang  memenuhi  dinding  di sebelah kiri dan dan kanan.

Di belakang ruangan utama kelenteng utama terdapat ruangan altar persembahan berikutnya dengan terdapat arca Dewi Kwan Im. Di sekitar ruangan ini terdapat ornament arca-arca dari para pengikut setia Dewi Kwan  Im.

Di halaman luar di sisi samping ruangan kelenteng utama terdapat dapur umum,ruangan serba guna  dan toilet. Pada masing-masing sisi halaman itu dihiasi oleh patung Naga dalam ukuran yang cukup besar.

Dalam  setahun sekali, di kelenteng Sumber Naga diadakan acara sembahyang rebutan bagi umat kelenteng dan pembagian beras bagi masyarakat yang tidak mampu. Seperti yang dilakukan di kelenteng  ini pada hari Sabtu tgl 31 Agustus 2012.

Sedangkan di halaman luar di depan gerbang kelenteng terdapat pepohonan yang cukup besar dan rindang. Pepohonan itu mungkin sudah berusia puluhan atau ratusan tahun melihat dari sosok dan bentuk batang dan akarnya.



Sabtu, 01 September 2012

Gereja Merah Yang Kuno Dan Unik Di Probolinggo


Gereja Merah, begitulah  warga di  Kota  Probolinggo – Jawa Timur menyebut bangunan ini.

Sesuai dengan namanya, bangunan tempat beribadah umat Kristiani itu memang berwarna merah pada semua bagiannya.


Selain warnanya yang tampak mencolok, keindahan bangunan dengan arsitekturnya yang indah dan  unik ini tentu memancing siapa saja yang melintas di Jalan Suroyo di kota Mangga ini.

 
Gereja Merah itu bernama lengkap  Gereja Protestan Indonesia Barat ( GPIB ) Immanuel. Selain dikunjungi oleh para umatnya, selama ini  Gereja Merah  juga sering dikunjungi oleh wisatawan dari nusantara dan mancanegara. 

 
 Wisatawan dari  mancanegara itu umumnya berasal dari Belanda.Mereka ingin mengetahui dan menyimak tentang pesona keindahan dan sejarah Gereja Merah. Gereja ini dibangun pada tahun 1862.

Gereja Merah yang struktur bangunannya sebagian besar terbuat dari besi baja ini dulu memang dibuat dan dirancang di Belanda. Setelah jadi, struktur bangunan dengan system bongkar-pasang (knock down) itu kemudian dikapalkan ke Probolinggo.

 Sesampai di Probolinggo, struktur bangunan itu dirangkai kembali menjadi bangunan gereja.
Pada masa lampau ,  dinding gereja berupa papan kayu biasa. Karena tidak rata , dalam perkembangannya dinding kayu itu kemudian  dilapisi dengan kayu lapis.
 
Yang unik, di  dunia hanya ada dua gereja yang  bentuknya seperti ini, yaitu  satu di Denhaag, dan  yang satunya  lagi di  Gereja Merah  -  Probolinggo ini .Gereja merah ini dibangun oleh Pendeta Pati Rajawane, berdiri pada masa Belanda di bawah kepemimpinan Bupati Meijer, Bupati Probolinggo pertama.


 
Gereja Merah menempati lahan yang cukup luas dengan terdapat taman di sekitarnya.  Ornamen di bagian luar gereja tampak klasik dan bernuansa warna merah. Begitu juga dengan ornamen-ornamen yang ada di ruangan di  bagian dalamnya.

Di dalam ruangan gereja terdapat  sebuah Mimbar yang berbentuk piala dan  biasa digunakan dalam sakramen perjamuan kudus. Selain itu juga tedapat Cawan yang berukuran  kecil yang digunakan untuk meletakkan air baptisan pada sakramen Baptis.

 
 Cawan itu  juga terbuat  dari baja, sehingga karena berat menyebabkan benda itu  tidak mudah digeser oleh satu orang saja. 

 Tutup cawan itu sendiri  bisa dibuka untuk mengambil air baptis yang sudah dipersiapkan. Jika sedang tidak digunakan untuk melakukan sakramen baptis, cawan itu dibiarkan dalam keadaan kosong.

 Di altar gereja tua itu tertera tulisan ”Gebouwd Anno 1862”  yang berarti dibangun tahun 1862.

Tangga yang  menuju di balkon yang ada di Gereja Merah ini juga beberntuk menarik. Untuk Balkon biasanya digunakan sebagai tempat paduan suara gereja menyanyikan doa dan lagu-lagu pujian. 

 Warna merah pada gereja ini ternyata memiliki makna simbolis dari warna darah sebagai bentuk pengorbanan Yesus Kristus kepada umatnya.

Dengan keunikan bangunan dan kisah sejarahnya, Gereja Merah ini menjadi salah satu dari banyak bangunan kuno yang indah  dan bersejarah yang ada di sepanjang ruas jalan menuju ke alun-alun Kota Probolinggo.