Tampilkan postingan dengan label Wisata Alam. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Wisata Alam. Tampilkan semua postingan

Kamis, 01 Maret 2012

Pesona Keindahan Air Terjun Sri Gethuk - Gunung KiduL

Air Terjun Sri Gethuk berada di Dukuh Menggoran, Desa Bleberan Kecamatan Playen Kabupaten Gunung Kidul, sekitar 40 km dari Pusat Kota Jogjakarta.

Untuk menuju kesana medan jalannya terus menanjak dengan banyak jurang di kanan dan kiri jalan.
Dari Jogjakarta ada dua alternatif Jalur Perjalanan yang bisa ditempuh yaitu Jogjakarta-Piyungan-Patuk-Pertigaan Gading-Playen-Bleberan. Sedangkan jalur yang lainnya dari Jogjakarta-Imogiri-Panggung-Playen-Bleberan. 


Jika kesana menggunakan Angkutan Umum dari terminal bis Giwangan Jogjakarta menempuh waktu perjalanan sekitar 1,5 jam dengan ongkos Rp 6000. Selama perjalanan menuju ke lokasi banyak terdapat Hutan dengan vegetasi jenis pohon jati, kayu putih, mahoni, pinus, dan sebagainya.


Sesampai di Pertigaan Gading atau , perjalanan bisa dilanjutkan dengan naik angkutan umum menuju ke Pertigaan Menggoran. Tapi angkutan umum ini hanya ada sampai siang saja bersamaan dengan jam pulang anak sekolah. Selepas itu hanya ada alternatif angkutan ojek dengan ongkos Rp 15.000 menuju ke air terjun Sri Gethuk.


Karena perjalanan banyak melewati daerah Hutan dengan banyak persimpangan Jalan, ada baiknya untuk bertanya kepada warga setempat tentang arah perjualanan menuju ke air terjun. JIka sudah memasuki Desa Bleberan, di sebuah pertigaan terdapat pos untuk membeli tiket masuk ke lokasi wisata air terjun Sri Gethuk. Harga tiketnya Rp 3000 per orang.

 
Cukup Murah karena tiket itu bisa digunakan untuk masuk ke dua lokasi wisata yaitu air terjun Sri Gethuk dan Gua Rancang Kencana yang masing-masing berada sekitar 200 meter jauhnya dari pos tiket dengan lokasi yang berbeda.


Air terjun Sri Gethuk juga dikenal dengan nama air terjun Slompret. Konon kedua nama itu digunakan karena dari lokasi air terjun ini pada waktu-waktu tertentu sering terdengar semacam bunyi dari alat musik Gamelan Ketuk ( semacam gong kecil) dan Slompret ( semacam terompet) yang dipercaya oleh Warga Setempat sebagai bunyi gamelannya penunggu gaib di air terjun.

  
Ada dua pilihan untuk menuju ke air terjun. Yang pertama adalah dengan menggunakan Perahu dengan ongkos Rp 5000 per orang. Ada dua perahu disana yang akan mengantarkan pengunjung menuju ke air terjun dan kembali lagi ke pangkalan dengan menyusuri Sungai Oya dan menikmati keindahan Tebing-tebing batu dan air tejun. Perahu itu akan singgah sejenak di dekat air terjun untuk memberi kesempatan pada pengunjung merasakan dan menikmati indahnya air terjun.


Kata Udin yang menambang perahu, jika sedang hujan, perahu tidak bisa beroperasi karena arus sungai sangat deras dan rawan banjir, Untuk pilihan yang kedua dengan berjalan kaki menuju ke air terjun dengan melewati pematang sawah dan sungai-sungai kecil dengan tanaman padinya dan hamparan pohon kelapa di sekelilingnya. Jika ingin beristirahat bisa mampir sejenak di gubuk-gubuk sawah.

 
Panorama alamnya yang sangat indah mengingatkan pada indahnya alam di daerah Ubud – Bali. Selanjutnya dengan naik turun melewati undak-undakan yang masih alami dari tanah dengan bebatuannya dan ada juga undakan yang sudah disemen. Lepas dari undak-undakan itu kemudian berlanjut dengan melewati batu-batu besar di sungai.


Dari batu-batu besar ini dengan memandang dari kejauhan sudah tampak sosok air terjun Sri Gethuk dengan suara gemuruh air terjunnya. Bila arus air terjun tidak begitu deras, biasanya pengunjung akan terus melangkahkan kakinya sampai tepat di bawah dan dekat dengan air terjun untuk merasakan sensasi berbasah ria terkena tempias air terjun dan aliran airnya di bebatuan. Tentu saja sambil tak lupa untuk Berfoto Ria Air terjun


Sri Gethuk memang cukup indah. Ada tiga air terjun utama yang cukup besar dengan beberapa air terjun berukuran kecil yang disebut dengan ‘ kriwikan’. Berpadu indah dengan hijaunya Pepohonan dan semak-semak.
 

Karena berada di alam terbuka, bila hujan menjadikan medan menuju ke air terjun sangat licin dan harus berhati-hati ketika melintasinya. Terlebih ketika sedang melewati pematang sawah dan sungai kecil karena tak jarang pengunjung sampai jatuh dan terpeleset ketika melewatinya.


 Selama perjalanan menuju dan kembali dari air terjun , pengunjung akan menjumpai aktifitas warga setempat yang mayoritas sebagai petani. Beberapa diantaranya ada yang mengambil air langung dari sumber mata airnya. 


Usai menikmati keindahan dan kesegaran air terjun Sri Gethuk bisa beristirahat di warung-warung sambil menikmati makanan dan minuman. Ada menu khas yang layak dicoba yaitu TiwuL , Makanan seperti nasi dan terbuat dari singkong dengan pemanisnya yang terbuat dari gula Jawa.



 ====================



Artikel-artikel Menarik lainnya bisa Anda baca 

di Link berikut ini :



Selasa, 28 Februari 2012

Situs Purbakala Gua Pasir - Tulungagung

Mendengar nama Gua Pasir di Tulungagung – Jawa Timur, benak kita umumnya tertuju pada sosok gua yang ada di daerah berpasir, ada pasir di dalam gua atau apapun yang berkenaan dengan pasir sebagai bahan material Bangunan.

 Namun anggapan itu ternyata runtuh ketika berkunjung ke Gua Pasir ini. 


Ternyata tak ada pasir sama sekali di gua itu. Letaknya juga tidak pada daerah yang berpasir. Justru letaknya ada di dalam hutan dengan banyak tebing berbatu besar. Gua Pasir juga tidak seperti sosok gua pada umumnya yang memiliki banyak Lorong-lorong di dalamnya.


Lokasi Gua Pasir cukup dekat. Sekitar 10 km ke arah timur dari Pusat Kota Tulungagung, Jawa Timur.Akses Jalan kesana juga cukup bagus dan lancar. Mendekati lokasi Gua Pasir, hamparan bukit Gunung Podo yang tampak gersang dengan aliran Sungai di bawahnya seolah menyapa kami. Di salah satu lereng bukit itulah Gua Pasir berada. Secara administratif, Gua Pasir terletak di dusun Pasir, desa Junjung, kecamatan Sumbergempol – Tulungagung. Karena berada di lingkungan Hutan alami, merasa kaget dan bingung karena hanya pemandangan hutan saja yang menyergap mata Anda ketika memasuki lokasi jika tak ada papan petunjuk tentang dimana lokasi gua. Pos penjagaan sekaligus loket yang menjual tiket masuk juga tampak sepi. Tak ada petugas sama sekali. 


“Penjaga pos ada dan bayar tiketnya cuma hari libur saja ,” ujar seorang pengunjung gua. Ketika saya kemudian bertanya dimana letak gua, pemuda itu kemudian mengarahkan telunjuknya ke sebuah batu besar di atas tebing yang cukup tinggi. “Untuk kesana ikuti saja jalur berbatu itu, “ lanjutnya. 


Di sekitar lokasi ini terdapat sebuah makam kuno yang oleh warga setempat disebut dengan Makam Mbah Bodho. Yang menarik, di depan makam kuno ini ada beberapa Arca, umpak, Miniatur bangunan, Padma dan batu-batu kuno yang sayang bentuknya banyak yang tidak utuh. 


Cukup susah juga melewati jalur lereng berbatu itu. Tanpa ada pegangan dengan susunan bebatuannya yang tidak rapi. Masih Alami memang. Namun terasa merepotkan bagi yang tidak biasa melewati jalur dengan banyak bongkahan batu besar. Ternyata lokasinya cukup tinggi sekitar 80 meter dan berada di Tebing batu karst.Untuk menuju ke sana tentu harus melewati jalur berbatu itu dengan berpegangan pada celah-celah tebing. 


Ketegangan baru langsung menyergap karena jalur berikutnya adalah semacam undak-undakan atau tangga kecil yang terpahat pada batu. Rasa was-was dan tegang sangat terasa ketika melewati undak-undakan kecil itu. Selain tak ada pegangan, lebar pijakan undak-undakan itu juga tak ada hanya sekitar 25 cm. Sungguh sangat berresiko karena bisa terjatuh kalau melangkah dengan tidak ekstra hati-hati. Setelah berkali-kali melangkahkan kaki melanjutkan perjalanan dengan sesekali menarik nafas dan beristirahat, Akhirnya sampai juga di depan lubang gua. Sambil menarik nafas karena beratnya medan yang dilalui bisa dengan mengamati keadaan gua Pasir. Dari ketinggian Gua Pasir ini kita dapat menebarkan pandangan menikmati panorama alam Desa Junjung dan sekitarnya. 


Ternyata Gua Pasir itu hanya berupa lubang ceruk besar yang dipahat pada lereng batu besar. Tak ada lorong-lorong panjang yang saling menghubungkan di dalamnya seperti gua pada umumnya. Mulut gua mengarah ke timur laut dengan ukuran panjang 430 cm, lebar 190cm dan dalam ceruk 150 cm. Yang menarik dan membuat terpana , di dalam ceruk itulah terdapat tiga bagian relief . Di bagian tengah ceruk tampak relief seorang pria yang sepertinya sosok seorang raja, bangsawan atau kesatria dengan didampingi wanita. 


Sedangkan di bagian kiri dan kanan ceruk juga terdapat Relief bergambar seorang pria gendut yang berbibir tebal dan bersorban sedang berpelukan dengan seorang wanita yang mengenakan perhiasan giwang dan kalung yang cukup besar sedang bertelanjang dada. Pada relief di bagian kiri sosok wanita itu tampak meremas payudaranya sendiri. Sedangkan di relief sebelah kanan sosok wanita yang bertelanjang dada itu sudah berpelukan mesra dengan pria gendut bersorban .


Tampaknya relief itu menggambarkan mereka sedang bercumbu. Pada latar belakang relief-relief itu tampak seperti hiasan-hiasan berbentuk lonceng atau genta untuk beribadah dan bentuk gunungan pada wayang kulit. 


Di sekitar ceruk juga ada batu besar yang ditatah membentuk panil-panil berisikan gambar wanita, Dwarapala dan Satwa seperti kera yang menari dan gajah. Beberapa kali terpeleset karena banyaknya serasah daun-daun Pepohonan dan Tanaman di jalur berbatu itu bagai hal yang biasa. Karena itu alangkah baiknya jika berkunjung kesana pada musim kemarau sehingga medan perjalanannya tidak licin..


Ketika menyusuri dan menuruni jalur berbatu itu untuk kembali pulang dan sesaat seusai menuruni batu yang terakhir,Ada sesuatu yang menarik perhatian tentang batu-batu itu. Sepertinya bentuknya menyerupai kura-kura lengkap dengan bagian-bagiannya  seperti kepala, kaki dan tempurungnya. Tempurung dan kaki batu yang menyerupai kura-kura itulah yang diinjak oleh pengunjung injak sewaktu melewatinya saat menuju ke Gua Pasir dan sebaliknya.


Walau tidak tahu apa maksud dan fungsi batu kura-kura itu pada jaman dulu, ada perasaan bersalah telah menginjak benda dan Peradaban  purbakala itu. Apalagi dua pertiga bagian ‘ tempurung Kura-kura ‘ itu sudah hilang dan tidak utuh lagi. Dari penelusuran data di jaringan maya juga cukup minim informasi tentang situs Gua pasir ini. Data yang cukup menarik, menurut catatan peneliti Dr. N.J. Krom dan Verbeek, di situs Gua pasir pernah ditemukan arca batu yang terdapat kronogram Saka 1325 (1403 M) , 1224 (1302M) dan 1228 ( 1306 M ). 


Pada buku Seri Sejarah  Mengenal Benda Cagar Budaya Di Tulungagung terbitan Dinas Pariwisata dan Budaya Kabupaten Tulungagung ( tahun 2007 ), disebutkan bahwa beberapa ahli berpendapat Gua ini adalah pertapaan yang digunakan oleh Rajapatni, nenek Hayam Wuruk yang meninggal pada tahun 1350 M dan abu jenazahnya disemayamkan di candi Boyolangu, sekitar 12 km dari lokasi Gua Pasir.


Sedangkan Relief pada ceruk Gua berkisah tentang Arjunawiwaha yang diantaranya tentang penggodaan terhadap Arjuna oleh para  Bidadari. Sementara sosok pria gendut bersorban disebutkan merupakan punakawan Arjuna yang berpakaian seperti pertapa dengan mengenakan sorban di kepalanya. 


Begitu banyak pesona misteri yang menebarkan tanda tanya dan rasa penasaran pada situs Gua Pasir ini. Berangkat dari fakta ditemukannya bangunan Candi  kuno dan Patung wanita di sekitar gua pasir pada setahun yang lalu, tentu masih banyak lagi benda Purbakala lainnya yang terpendam di situs ini.
Free Trial 41.000 Movies  + TV  Episode = Amazon Prime 

======================================================================

Dijual Tablet Smartfren New Andromax Tab 7.0 

Hadiah Lomba dari Vivanews. 

Kondisi 100% Baru, Lengkap dan Tersegel.

Harga Penawaran Rp 1,5 juta

Barang Langka - Stock Galeri Smartfren Sudah Kosong Lama

Harga Tablet Smartfren New Andromax Tab 8.0 Rp 2,3 juta

Kontak Agung - 0823 3388 7121

=====================================================================





 ====================

===============

Artikel-artikel Menarik lainnya bisa Anda baca 

di Link berikut ini :




Gua Rancang Kencana - Gunung Kidul Jogjakarta

Gua Rancang Kencana berada di Dukuh Menggoran, Desa Bleberan Kecamatan Playen Kabupaten Gunung Kidul, sekitar 40 km dari pusat kota Jogjakarta. Untuk menuju kesana medan jalannya terus menanjak dengan banyak Jurang di kanan dan kiri jalan. 



Dari Jogjakarta ada dua alternatif jalur perjalanan yang bisa ditempuh yaitu Jogjakarta-Piyungan-Patuk-Pertigaan Gading-Playen-Bleberan. Sedangkan jalur yang lainnya dari Jogjakarta-Imogiri-Panggung-Playen-Bleberan.


 Jika kesana menggunakan angkutan umum dari terminal bis Giwangan Jogjakarta menempuh waktu perjalanan sekitar 1,5 jam dengan ongkos Rp 6000. Selama perjalanan menuju ke lokasi banyak terdapat hutan dengan vegetasi jenis pohon jati, kayu putih, mahoni, pinus, dan sebagainya. Sesampai di Pertigaan Gading atau , perjalanan bisa dilanjutkan dengan naik Angkutan Umum menuju ke Pertigaan Menggoran. Tapi angkutan umum ini hanya ada sampai siang saja bersamaan dengan jam pulang anak sekolah. Selepas itu hanya ada alternatif angkutan ojek dengan ongkos Rp 15.000 menuju ke Gua Rancang Kencana.


Karena perjalanan banyak melewati daerah Hutan dengan banyak persimpangan jalan, ada baiknya untuk bertanya kepada warga setempat tentang arah perjualanan menuju ke air terjun. JIka sudah memasuki Desa Bleberan, di sebuah pertigaan terdapat pos untuk membeli tiket masuk ke lokasi wisata Gua ini. Harga tiketnya Rp 3000 per orang. Cukup murah karena tiket itu bisa digunakan untuk masuk ke dua lokasi wisata yaitu air terjun Sri Gethuk dan Gua Rancang Kencana yang masing-masing berada sekitar 200 meter jauhnya dari pos tiket dengan lokasi yang berbeda.


Pengunjung bisa memilih untuk menuju ke Gua Rancang Kencana atau ke air terjun Sri gethuk terlebih dahulu. Namun ada baiknya untuk menuju ke Gua Rancang Kencana terlebih dahulu karena medannya yang cukup ringan tanpa perlu banyak menguras tenaga daripada medan perjalanan menuju ke air terjun Sri Gethuk. 


Di pos tiket, pengunjung bisa bilang ke petugas untuk pinjam senter sebagai penerang di dalam gua atau sekaligus juga minta diantar oleh pemandunya. Tanpa diantar oleh pemandu pun tak masalah karena untuk menuju ke Gua Rancang Kencana cukup mudah. Lokasi Gua Rancang Kencana ditandai dengan dua tumpukan bongkahan batu besar di kanan dan kiri jalan yang seolah menjadi pintu gerbangnya.


---------------------------------------------------------------------------------------------------

Break Session :

Baca juga artikel-artikel menarik lainnya di Blog ini dengan Langsung KLIK Link di bawah ini atau kata-kata berwarna Biru lainnya :
  









================================================================
Sekitar 30 meter dari tumpukan batu itu tampak menjulang tinggi sebuah pohon Klumpit ( Terminalia edulis ) yang cukup besar dan rindang. Melihat dari bentuk dan besarnya ukuran pohon klumpit dengan bentuk akarnya yang sangat kokoh itu tentu usia tanaman itu sudah ratusan tahun. Mendekati pohon raksasa itu barulah tampak lubang yang sangat besar dengan tangga yang sudah disemen untuk masuk dan turun ke dalam gua. Melihat dari atas lubang besar ini dari kejauhan tampak gua Rancang Kencana. Rimbunnya tanaman menjadikan lokasi gua rancang Kencana tampak asri dan menyejukkan. Namun temaramnya sinar matahari yang masuk ke dalam gua membuat suasana di dalam dan sekitar gua terasa nuansa mistis.


Menurut Marwanto (26), petugas loket sekaligus pemandu, dulunya Gua Rancang Kencana ini pernah diberi lampu sorot dengan pendar sinar dan cahayanya pada gua menjadikannya tampak artistik. “Namun atas saran dari sesepuh desa dan menjaga kesakralan gua, lampu penerang itu sejak beberapa tahun lalu kemudian ditiadakan,” kata Marwanto.


Melangkahkan kaki memasuki Gua Rancang Kencana banyak menjumpai berbagai bentuk stalaktit dan stalakmit yang berwana putih, coklat dan hitam. Namun tak ada satupun stalaktit dan stalakmit itu yang tampak berkilauan. Memasuki ke dalam gua yang ‘ gerbang masuk ‘ nya berukuran lebar 10 meter dan tinggi 8 meter itu juga terdapat tumpukan batu yang diantaranya ada yang bentuknya seperti sapi . Ada juga batu kotak dengan hiasan ukiran di bagian bawahnya. Sayang tekstur tatahan pada kedua batu itu kurang begitu jelas bentuknya. Di gua ini juga terdapat beberapa lorong.


Yang menarik, ada satu lorong gua yang lubangnya berukuran cukup kecil dan untuk memasukinya harus dengan satu persatu. Mengingat lubang masuk lorong ini cukup sempit menyebabkan hanya pengunjung yang bertubuh kurus atau ramping saja yang diijinkan untuk memasukinya.Di balik lorong itu ternyata terdapat ruangan yang cukup luas dan berukuran sekitar 5x6 meter.


Menurut buku Legenda Budaya Desa Bleberan yang diterbitkan oleh pemerintah desa Bleberan, Gua Rancang Kencana ditemukan pada tahun 1720 oleh beberapa prajurit dari Laskar Mataram yang menyelamatkan diri dari sergapan pasukan Belanda yang mau menangkapnya. Diantara prajurit itu terdapat Kyai Putut Lingga Bawono dan Kyai Soreng Pati yang dengan bertempat di dalam gua ini kemudian menyusun rencana dan strategi untuk mengadakan penyerangan dan perlawanan kembali pada pasukan Belanda.


Rencana dan strategi yang dianggap mulia bagai emas itulah yang kemudian menjadi nama bagi gua ini yaitu Gua Rancang Kencana. Dalam bahasa Jawa Rancang berarti rencana dan Kencana artinya emas.