Tampilkan postingan dengan label Wisata Jogjakarta. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Wisata Jogjakarta. Tampilkan semua postingan

Minggu, 04 Maret 2012

Pesona Keindahan Candi Prambanan Jogjakarta

Candi Siwagrha (Shivagrha) yang berarti Rumah Siwa atau Shivalaya yang berarti Alam Siwa adalah nama lain dari Candi Prambanan dalam bahasa Sansekerta. 


Nama itu berdasarkan pada Prasasti Siwagrha yang berangka tahun 856 Masehi, yang juga menerangkan bahwa candi ini mulai dibangun sekitar tahun 850 Masehi oleh Rakai Pikatan dan pembangunannya dilanjutkan oleh Balitung Maha Sambu pada era kerajaan Medang Mataram. 


Selain juga karena di dalam ruangan candi candi utama memang terdapat arca Siwa Mahadewa setinggi 3 meter. 


Candi yang sejak tahun 1991 termasuk Situs Warisan Dunia UNESCO ini juga disebut dengan Candi Rara Jonggrang karena terdapat patung Rara Jonggrang dalam salah satu candi yang ada di kompleksi candi. 


Candi Prambanan yang menghadap ke arah timur dengan pintu masuknya yang berada di empat penjuru mata angin ini berada di Desa Prambanan – Jogjakarta, yang merupakan perbatasan daerah Sleman dan Klaten . 


Lokasinya sekitar 120 km arah selatan dari Semarang. Atau sekitar 20 km arah timur dari Yogyakarta dan sekitar 40 km arah barat dari Surakarta. 


Candi Prambanan dengan ketinggian candi utama sekitar 47 meter ini adalah kompleks candi Hindu terbesar di Indonesia dan kompleks percandian terbesar dan terindah di Asia Tenggara selain Candi Angkor Wat. Candi ini dibangun sebagai persembahan untuk Trimurti. 


Candi ini pernah mengalami kehancuran dan rusak karena faktor bencana alam atau faktor lainnya. Pada tahun 1733, candi ini ditemukan oleh CA. Lons dari Belanda pada tahun 1733 menemukan candi ini dengan kondisinya yang porak poranda. 


Pada selanjutnya Colin Mackenzie, seorang surveyor bawahan Sir Thomas Stamford Raffles, menemukan candi ini. Sayangnya, walaupun Sir Thomas kemudian memerintahkan penyelidikan lebih lanjut sepanjang tahun 1880an, reruntuhan candi ini tetap terlantar hingga berpuluh-puluh tahun. 


Kemudian pada tahun 1855 Jan Willem Ijzerman mulai membersihkan dan memindahkan beberapa batu dan tanah dari bilik candi. 


IsaƤc Groneman kemudian melanjutkannnya dengan melakukan pembongkaran besar-besaran dan batu-batu candi tersebut ditumpuk secara sembarangan di sepanjang Sungai Opak. 


---------------------------------------------------------------------------------------------------

Break Session :

Baca juga artikel-artikel menarik lainnya di Blog ini dengan Langsung KLIK Link di bawah ini atau kata-kata berwarna Biru lainnya :
  









================================================================
Pemugaran candi sudah dimulai pada tahun 1918, akan tetapi upaya serius yang sesungguhnya dimulai pada tahun 1930-an. Pada tahun 1902-1903, Theodoor van Erp memelihara bagian yang rawan runtuh. 


Jawatan Purbakala (Oudheidkundige Dienst) di bawah P.J. Perquin pada tahun 1918-1926, dilanjutkan melanjutkan pemugaran dengan cara yang lebih sistematis sesuai kaidah arkeologi. 


Pada tahun 1926-1930 pemugaran dilanjutkan De Haan dan pada tahun 1931-1942 digantikan oleh Ir. V.R. van Romondt. 


Pemugaran candi Siwa sebagai candi utama dirampungkan pada tahun 1953 dan berlanjut hingga tahun 1993 oleh pemerintah Indonesia. 


Dalam kompleks Candi Prambanan terdapat 240 candi yang terdiri dari 3 Candi Trimurti: candi Siwa dengan 47 meter dan lebar 34 meter, candi Wisnu dan candi Brahma dengan tinggi 33 meter dan lebar 20 meter , 3 Candi Wahana yaitu candi Nandi, Garuda, dan Angsa, 2 Candi Apit, 4 Candi Kelir dan 4 candi Patok setinggi 2 meter dan 224 candi Perwara ( candi pengawal ) setinggi 14 meter dengan ukuran denah 6x6 meter. 


Tetapi dari sekian banyak candi itu , hanya terdapat 18 candi yang bisa dilihat bentuknya secara utuh ; yaitu 8 candi utama dan 8 candi kecil di zona inti serta 2 candi perwara.


Dari 224 candi perwara hanya 2 yang sudah dipugar dan yang lainnya hanya tumpukan batu yang berserakan di kompleks candi. 


Candi Prambanan memiliki banyak relief yang indah tentang epos Hindu yang berkisah tentang Ramayana dan Krishnayana. Diantaranya terdapat relief yang menampilkan Shinta tengah diculik Rahwana yang menunggangi raksasa bersayap, sementara burung Jatayu di sebelah kiri atas mencoba menolong Shinta. 


Tiket masuk ke Candi Prambanan untuk wisatawan Nusantara Rp 30.000 dengan jam buka mulai pukul 06.00-18.00. 


Ada juga paket terusan Rp 45.000 yang berlanjut kunjungan ke Kompleks Candi Ratu Boko yang terletak sekitar 3 km dari candi Prambanan dengan menggunakan angkutan shuttle secara gratis. 
   
    

Candi Prambanan memang sangat indah dan menawan dengan segala pesona pada bangunan candi dan kisah-kisahnya. Berkunjung ke candi Prambanan membuat kita merasa kagum dalam mengenang kejayaan peradaban di masa lampau. 

Selasa, 28 Februari 2012

Gua Rancang Kencana - Gunung Kidul Jogjakarta

Gua Rancang Kencana berada di Dukuh Menggoran, Desa Bleberan Kecamatan Playen Kabupaten Gunung Kidul, sekitar 40 km dari pusat kota Jogjakarta. Untuk menuju kesana medan jalannya terus menanjak dengan banyak Jurang di kanan dan kiri jalan. 



Dari Jogjakarta ada dua alternatif jalur perjalanan yang bisa ditempuh yaitu Jogjakarta-Piyungan-Patuk-Pertigaan Gading-Playen-Bleberan. Sedangkan jalur yang lainnya dari Jogjakarta-Imogiri-Panggung-Playen-Bleberan.


 Jika kesana menggunakan angkutan umum dari terminal bis Giwangan Jogjakarta menempuh waktu perjalanan sekitar 1,5 jam dengan ongkos Rp 6000. Selama perjalanan menuju ke lokasi banyak terdapat hutan dengan vegetasi jenis pohon jati, kayu putih, mahoni, pinus, dan sebagainya. Sesampai di Pertigaan Gading atau , perjalanan bisa dilanjutkan dengan naik Angkutan Umum menuju ke Pertigaan Menggoran. Tapi angkutan umum ini hanya ada sampai siang saja bersamaan dengan jam pulang anak sekolah. Selepas itu hanya ada alternatif angkutan ojek dengan ongkos Rp 15.000 menuju ke Gua Rancang Kencana.


Karena perjalanan banyak melewati daerah Hutan dengan banyak persimpangan jalan, ada baiknya untuk bertanya kepada warga setempat tentang arah perjualanan menuju ke air terjun. JIka sudah memasuki Desa Bleberan, di sebuah pertigaan terdapat pos untuk membeli tiket masuk ke lokasi wisata Gua ini. Harga tiketnya Rp 3000 per orang. Cukup murah karena tiket itu bisa digunakan untuk masuk ke dua lokasi wisata yaitu air terjun Sri Gethuk dan Gua Rancang Kencana yang masing-masing berada sekitar 200 meter jauhnya dari pos tiket dengan lokasi yang berbeda.


Pengunjung bisa memilih untuk menuju ke Gua Rancang Kencana atau ke air terjun Sri gethuk terlebih dahulu. Namun ada baiknya untuk menuju ke Gua Rancang Kencana terlebih dahulu karena medannya yang cukup ringan tanpa perlu banyak menguras tenaga daripada medan perjalanan menuju ke air terjun Sri Gethuk. 


Di pos tiket, pengunjung bisa bilang ke petugas untuk pinjam senter sebagai penerang di dalam gua atau sekaligus juga minta diantar oleh pemandunya. Tanpa diantar oleh pemandu pun tak masalah karena untuk menuju ke Gua Rancang Kencana cukup mudah. Lokasi Gua Rancang Kencana ditandai dengan dua tumpukan bongkahan batu besar di kanan dan kiri jalan yang seolah menjadi pintu gerbangnya.


---------------------------------------------------------------------------------------------------

Break Session :

Baca juga artikel-artikel menarik lainnya di Blog ini dengan Langsung KLIK Link di bawah ini atau kata-kata berwarna Biru lainnya :
  









================================================================
Sekitar 30 meter dari tumpukan batu itu tampak menjulang tinggi sebuah pohon Klumpit ( Terminalia edulis ) yang cukup besar dan rindang. Melihat dari bentuk dan besarnya ukuran pohon klumpit dengan bentuk akarnya yang sangat kokoh itu tentu usia tanaman itu sudah ratusan tahun. Mendekati pohon raksasa itu barulah tampak lubang yang sangat besar dengan tangga yang sudah disemen untuk masuk dan turun ke dalam gua. Melihat dari atas lubang besar ini dari kejauhan tampak gua Rancang Kencana. Rimbunnya tanaman menjadikan lokasi gua rancang Kencana tampak asri dan menyejukkan. Namun temaramnya sinar matahari yang masuk ke dalam gua membuat suasana di dalam dan sekitar gua terasa nuansa mistis.


Menurut Marwanto (26), petugas loket sekaligus pemandu, dulunya Gua Rancang Kencana ini pernah diberi lampu sorot dengan pendar sinar dan cahayanya pada gua menjadikannya tampak artistik. “Namun atas saran dari sesepuh desa dan menjaga kesakralan gua, lampu penerang itu sejak beberapa tahun lalu kemudian ditiadakan,” kata Marwanto.


Melangkahkan kaki memasuki Gua Rancang Kencana banyak menjumpai berbagai bentuk stalaktit dan stalakmit yang berwana putih, coklat dan hitam. Namun tak ada satupun stalaktit dan stalakmit itu yang tampak berkilauan. Memasuki ke dalam gua yang ‘ gerbang masuk ‘ nya berukuran lebar 10 meter dan tinggi 8 meter itu juga terdapat tumpukan batu yang diantaranya ada yang bentuknya seperti sapi . Ada juga batu kotak dengan hiasan ukiran di bagian bawahnya. Sayang tekstur tatahan pada kedua batu itu kurang begitu jelas bentuknya. Di gua ini juga terdapat beberapa lorong.


Yang menarik, ada satu lorong gua yang lubangnya berukuran cukup kecil dan untuk memasukinya harus dengan satu persatu. Mengingat lubang masuk lorong ini cukup sempit menyebabkan hanya pengunjung yang bertubuh kurus atau ramping saja yang diijinkan untuk memasukinya.Di balik lorong itu ternyata terdapat ruangan yang cukup luas dan berukuran sekitar 5x6 meter.


Menurut buku Legenda Budaya Desa Bleberan yang diterbitkan oleh pemerintah desa Bleberan, Gua Rancang Kencana ditemukan pada tahun 1720 oleh beberapa prajurit dari Laskar Mataram yang menyelamatkan diri dari sergapan pasukan Belanda yang mau menangkapnya. Diantara prajurit itu terdapat Kyai Putut Lingga Bawono dan Kyai Soreng Pati yang dengan bertempat di dalam gua ini kemudian menyusun rencana dan strategi untuk mengadakan penyerangan dan perlawanan kembali pada pasukan Belanda.


Rencana dan strategi yang dianggap mulia bagai emas itulah yang kemudian menjadi nama bagi gua ini yaitu Gua Rancang Kencana. Dalam bahasa Jawa Rancang berarti rencana dan Kencana artinya emas.