Senin, 05 Maret 2012

Malioboro Jogjakarta Selayang Pandang

Berkunjung ke kota Jogjakarta rasanya tak lengkap jika tidak mengunjungi kawasan Malioboro. 


Malioboro adalah nama seruas jalan di pusat kota Jogjakarta. Panjang jalan Malioboro itu sendiri sekitar 500 meter dan bersambung dengan nama jalan lainnya.  Nama Malioboro ini konon  merupakan nama seorang anggota pasukan kolonial dari Inggris yaitu Marlborough  yang pernah menduduki Jogjakarta pada tahun 1811-1816.


Banyak wisatawan yang berfoto ria dengan latar belakang papan jalan bernama Malioboro itu. Lokasi kawasan Malioboro adalah merupakan salah satu jalur utama di pusat kota. 


Tak jauh dari tempat-tempat yang menjadi Ikon Jogjakarta lainnya seperti Keraton Jogjakarta, Stasiun Tugu, Masjid Agung Jogjakarta, Pasar Beringharjo, Gedung Agung, Museum Benteng Vredeburg, Monumen Serangan Oemoem 11 Maret 1949 dan sebagainya. 


Berada dan melintasi kawasan Malioboro selain bisa untuk cuci mata, juga bisa menjadi tempat untuk berbelanja. Utamanya berbelanja oleh-oleh atau souvenir yang khas dan berkaitan dengan Jogjakarta.


Pasalnya, di kedua sisi  Jalan Malioboro terdapat banyak toko dan Lapak Pedagang dengan berbagai jenis dagangannya. Mereka ada yang menjual barang dagangannya dengan harga yang pas dan ada juga yang memberi penawaran harga jual terlebih dahulu. Karena itu sebelum membeli, perlu untuk menyimak bahan dan kualitasnya sebelum memutuskan untuk membeli. Tentu saja dengan menawar harga barangnya terlebih dulu. 


Pedagang di Malioboro didominasi dengan menjual dagangan berupa kaos-kaos dengan beragam tulisan dan gambar khas Jogja. Warna dan desainnya cukup menarik dan harganya berkisar Rp 15.000-Rp 35.000 per buah. 


Begitu juga dengan dagangan berupa sandal beraneka bentuk dan warna yang menarik bisa menjadi souvenir dari Jogja. 


Selain itu juga ada beraneka bentuk kerajinan dari kayu, kulit seperti wayang kulit dan sejenisnya, kerajinan dari bunga dan dedaunan kering, Blangkon ( penutup kepala khas Jawa), batik. dan sebagainya. 



Tentu saja ada banyak pilihan oleh-oleh camilan atau kue-kue khas Jogja seperti Bakpia, Bagi penggemar kuliner, diantara beraneka jenis Makanan Khas Jogja yang dijajakan disana, mencoba lezatnya makanan Gudeg yang terbuat dari nangka muda terasa sayang untuk dilewatkan. 
----------------------------------------------------------------------------------------------------
Break Session :
Baca juga artikel-artikel menarik lainnya di Blog ini dengan Langsung KLIK Link di bawah ini atau kata-kata berwarna Biru lainnya :

 
 
=================================================================


Namun perlu diingat, makanan ala Jogjakarta umumnya cenderung manis karena warga setempat biasanya menambah bumbu masakannya dengan gula merah ( Gula Kelapa ).


Diantara pedagang disana ada juga yang menyediakan jasa untuk membuat tato di tubuh dan melukis wajah baik secara langsung atau dengan bantuan media foto. 


Seniman jalanan juga tampak menyajikan atraksinya menghibur warga yang ada di Malioboro. Mereka beraksi secara berkelompok dengan lokasi yang tetap. Aksi mereka yang berdiri rapi dan tertib di tepi jalan terasa tidak mengganggu kenyamanan pengunjung Malioboro.


Permainan musik mereka seperti ber-genre Bob Marley, Rastafara, dan Reggae. Cukup enak dan nyaman untuk didengar dan dinikmati. Sangat berbeda dengan aksi pengamen jalanan yang biasa menyanyikan lagu-lagu pasaran seperti dangdut, campursari, pop, melayu, dan sejenisnya.


Bagi pengunjung yang ingin menikmati suasana dan pemandangan Jogjakarta dengan tidak berjalan kaki bisa menggunakan Becak ala Jogja yang bentuknya khas atau Andong ( kereta kuda ) yang bentuk dan warnanya menarik .


Kawasan Jalan Malioboro ini senantiasa ramai selama 24 jam dengan berbagai kehidupan dan aktifitasnya.





6 komentar: