Senin, 14 Januari 2013

Pelabuhan Kuno Yang Legendaris Di Bumi Ronggolawe


Keindahan panorama  senja di pantai Boom  yang berombak  tenang tampak sangat indah.

 Beberapa warga berada disana untuk menyaksikan panorama  yang mengantarkan sang surya kembali ke peraduannya.


Begitu pula dengan aktifitas para nelayan dengan perahu-perahu tradisionalnya yang bersiap atau  beranjak menuju ke laut lepas untuk menjaring ikan.

Bagi yang belum mengetahui, mungkin menganggap Pantai Boom ini biasa saja seperti pantai-pantai yang lainnya. Tetapi siapa sangka jika Pantai Boom ini merupakan jejak pelabuhan yang legendaris .
Pada masa lampau  pelabuhan yang berjarak sekitar 100 meter arah utara dari alun-alun Kota Tuyban - Jawa Timur ini merupakan pelabuhan  besar dan utama dalam jalur distribusi dan perdagangan. 

Seperti halnya yang tertulis di prasasti yang terpasang di dinding sumber air berrasa tawar yang ada di lokasi, pantai Tuban ini dulunya menjadi Pelabuhan besar yang menjadi jalur lintasan utama perdagangan dan pelayaran pada masa kerajaan Singhasari dan Majapahit.


Di pantai inilah Adipati Ronggolawe menghadang dan menyerang pasukan tentara Mongol yang hendak menyerbu kerajaan Singhasari.
Sebagai bekas pelabuhan niaga yang besar di masa lampau,tak heran bila di kawasan perairan dan pantai ini banyak ditemukan benda-benda bersejarah seperti gentong dan guci, kuno, persenjataan tradisional, keramik dan sebagainya.


Pada era tahun 1990-an di pantai ini diadakan pengangkatan harta karun dari dasar samudera yang dilakukan oleh perusahaan swasta dan telah mendapat izin dari pemerintah.  Saat itu bahkan seremoni acara dimulainya pengangkatan harta karun dilakukan di Pendapa Kridha Manunggal  Kabuapten Tuban. Tampak pada saat itu artis Ria Irawan menjadi kameraman untuk film dokumentasinya.

Saya menjadi teringat dengan kenangan semasa masih sekolah di bangku SMA. Ketika itu seusai pulang sekolah saya saya bersama teman-teman senantiasa menuju ke Pantai Boom ini untuk melihat benda-benda kuno yang berhasil ditemukan dan diangkat dari Pantai Boom.

Ketika itu saya melihat benda-benda yang pada permukaannya banyak ditempeli oleh kerang-kerang laut. Benda-benda itu berupa guci, gerabah, piring , gelas dan sebagainya yang umumnya terbuat dari keramik dan berwarna putih berhias biru atau putih berhias merah. Ada juga yang berwarna solid seperti merah tua, coklat , hitam dan sebagainya. 

  
=======================================================================

Break Session :

Baca juga artikel-artikel menarik lainnya di Blog ini dengan Langsung KLIK Link di bawah ini atau kata-kata berwarna Biru lainnya :
  
OLeh-oleh Khas Tuban 



Swastika Ala Nazi Di Kelenteng Kwan Sing Bio 
Nuansa Seram Dalam Ritual Sumpah Pocong
Mengenang Gus Dur Di Kelenteng Boen Bio
Menikmati Surabaya Dengan Surabaya Heritage Track 
Legenda Kwan Kong Di Kelenteng Kwan Sing Bio


Suharto, Hercules Bergigi Baja Dari Tuban  
Masjid Aschabul Kahfie Di Dalam Gua Yang Unik 
Megahnya Istana Kaisar Di Kelenteng Kwan Sing Bio
Nostalgia Masa Kecil Di Museum Anak Kolong Tangga

Ovi, Gadis Hulk Yang Perkasa Dari Tuban 
Menguji Nyali Di Tebing Watu Ondo
Mengenang Fenomena Aneh Gadis Kristal Di Tuban
Camilan Ampo Yang Terbuat Dari Tanah 
Ongkek Yang Langka Di Museum Kambang Putih Tuban 

Dinding Jebol Jejak Pelarian Pangeran Diponegoro
Foto Rongten Korban Santet Di Surabaya
Mobil Rolls Royce Kuno Milik Dinasti Sampoerna










================================================================
 Beberapa diantara benda-benda yang berhasil diangkat dari perairan Pantai Boom itu bisa dijumpai di Museum kambang Putih Tuban yang berada di sebelah selatan alun-alun Tuban.

Menyaksikan sang Mata Dewa yang bergerak perlahan menuju ke peraduannya menjadi kenangan yang cukup romantis dan mengesankan. 

 Terlebih dengan adanya pendar cahaya penerangan dari lampu merkuri di lokasi.

Karena itu banyak pengunjung yang mengabadikan panorama sunset itu dengan berfoto ria bersama  dengan kekasih atau keluarganya.Sayang beberapa lampu penerang yang ada di sana ada yang rusak dan tidak menyala.

Entah kenapa masih belum ada perhatian dari pemerintah daerah setempat untuk segera memperbaiki atau menggantinya. 



Dibangunnya kembali Pantai Boom ini pada beberapa tahun yang lalu patut disyukuri. Selain kondisinya yang lebih rapi dan tertata, juga keadaan tanggul pantainya yang kini cukup lebar dengan dilengkapi deretan gazebo atau gardu pandang.

Keadaan tanggul itu tentu sangat jauh berbeda dengan keadaan tanggul sebelumnya yang sangat rusak parah karena abrasi air laut.

 Bahkan karena sangat rusaknya,pada bagian ujung  tanggul pantai yang ketika saya masih berusia kanak-kanak itu bisa dilewati oleh kendaraan mobil dan bisa memutar kembali itu tak bisa dilewati secara baik dan lancar walau hanya dengan menggunakan motor saja. 

Untuk bisa melewatinya harus dengan jalan menuntunnya karena jika nekad melewati dengan menaikinya dan tidak berhati-hati bisa jatuh ke pinggiran tanggulnya.
  

3 komentar: