Sabtu, 19 Januari 2013

Kisah Batu Gajah Yang Unik Di Tuban

Watu Gajah  ( batu Gajah ), begitulah warga Tuban menyebut sekumpulan batu besar yang berada di tengah ladang yang ditanami jagung dan kacang ini.

Sesuai dengan namanya, bebarapa bongkahan batu itu jika dilihat secara sepintas memang bentuknya mirip dengan sosok gajah.

Selain bentuknya yang cukup unik, Watu gajah itu juga mempunyai sisi lain berupa kisah yang menarik  dan berkembang di masyarakat sekitar yaitu tentang legenda Watu Gajah.

Lokasi Watu Gajah  berada di desa Bejagung Kecamatan Semanding, tak jauh dari Jalan Raya Semanding menuju wisata Pemandian Bektiharjo.
Nama Watu gajah yang berarti Batu Gajah itu karena bila dicermati secara sepintas , beberapa bongkah batu besar itu  bentuknya  memang  seperti gajah dengan berbagai posisi dan pose. Ada yang menelungkup, berdiri, rebahan dan sebagainya.  Seolah lengkap dengan mata , telinga dan  belalai.
Batu-batu yang berwarna hitam itu sendiri  letaknya saling berdekatan. Setidaknya ada 5 batu besar yang bentuknya mirip gajah disana.  Sayang karena rimbunnya semak-semak di sekitar lokasi yang juga menutupi batu-batu itu, menjadikan bentuk gajah pada batu-batu itu menjadi kurang jelas.
Selain itu juga ada sebuah batu besar yang bentuknya seperti Puzzle dengan tiga keping pecahan batu.
 
Entah sejak kapan batu-batu itu disebut  dengan nama Watu Gajah. Konon, menurut legenda yang ditutur-tinularkan oleh warga setempat,  keberadaan Watu gajah ini  pada masa lampau ada kaitannya dengan sejarah Sunan Bejagung,  seorang ulama sakti yang  makamnya berada sekitar 500 meter arah utara dari Watu Gajah.

 

Menurut juru kunci dari makam Sunan Bejagung, Watu Gajah ini dulunya dikisahkan sebagai pasukan gajah dari Mapatih Gajah Mada yang akan menjemput Pangeran Penghulu (Sunan Bejagung), untuk kembali ke kerajaan Majapahit.

Namun di tengah perjalanan, ada seorang santri yang melihat dan segera melaporkan keberadaan pasukan itu ke hadapan Sunan Bejagung.


Akhirnya, pasukan gajah tersebut kemudian bisa diubah oleh Sunan Bejagung menjadi batu, tepat beberapa saat sebelum mereka berhasil sampai di pesantren. Cerita rakyat tersebut diperkuat dengan keterangan dari pemilik tanah setempat, yakni Bapak Takjim.
 
Dari bukit ini turun ke bawah menelusuri jalan setapakbisa langsung menuju ke kompleks makam dan pesantren Sunan Bejagung.
Terlepas dari Legenda itu,  Watu Gajah ini memang cukup menarik untuk dikunjungi. Apalagi karena letaknya yang berdekatan dengan lapangan milik desa setempat, bila sore hari ada saja warga yang berkerumun  di sekitar Watu Gajah.
Beberapa diantaranya bercengkerama dengan menduduki batu-batu itu.Di sekitar Watu Gajah ini juga terdapat gua yang juga ditumbuhi banyak  semak  belukar.

Melihat luasnya kawasan gua itu dan banyaknya lubang gua sebagai pintu masuknya, tampaknya  gua  di Watu Gajah ini  memiliki banyak lorong dan relung gua yang luas dan panjang.
Adanya gua di Watu Gajah itu tentunya menjadi banyak tanda Tanya besar yang cukup menarik perhatian yaitu bagaimana  bentuk dan keadaan dalam gua  itu dan apa saja  yang ada di dalamnya.
Andai gua-gua itu diteliti dan ditelusuri lebih lanjut ,  mungkin saja  di dalamnya terdapat   potensi  ‘  mutiara-mutiara terpendam ‘ yang berkaitan dengan  pesona keindahan gua alami.Entah lah bila Pemerintah Daerah setempat  tak  menyadari dan melihat potensi wisata yang terpendam itu dan membiarkannya terbengkalai begitu saja. 
  
Bila hal ini yang terjadi, niscaya    kawasan Watu Gajah ini  akan bernasib sama seperti nasib Watu Ondo, Banyu Langse dan Air terjun Nglirip yang  terlantar tanpa adanya perhatian dari pihak yang terkait.


2 komentar: