Sabtu, 26 Januari 2013

Kelenteng Boen Bio Yang Kuno Dan Indah

Sebagai kota tua dan lama,ada banyak kawasan pecinan di Kota Surabaya. Salah satunya adalah kawasan di sekitar Jembatan Merah yang legendaris.


Di kawasan Pecinan itulah terdapat beberapa bangunan Kelenteng. Salah satunya adalah kelenteng Boen Thjian Soe yang lebih dikenal dengan nama kelenteng Boen Bio.


Kelenteng dengan Bangunan berwarna terang dan Mencolok ini berdiri pada tahun 1883 di lokasi pertamanya, Kapasan Dalam, Surabaya. Dalam bahasa fujian. Boen berarti Sastra / budaya, sedangkan Bio berarti kuli. Jadi Boen Bio berarti : kuil kesusastraan.


Klenteng yang  merupakan saksi bisu pertahanan terakhir dari kejayaan agama khong Hu chu di Surabaya  ini beda dengan kebanyakan klenteng karena tidak ada Patung Buddhamaupun Dewi Kwan Im. Ia juga tak memiliki patung dewa-dewi lain, yang lazim ditemui dalam klenteng Buddha maupun Taoisme.
 Yang ada justru patung Khong hu Cu atau  lebih dikenal dengan nama Nabi Khong Co yang berada di depan altar sebelah kanan.
 

Kelenteng yang pernah mengalami pemugaran sejak 1903 dan  selesai pada tahun 1906  ini dahulu  kelenteng Boen Bio terletak di Kapasan dalam. Awalnya klenteng ini ada di posisi belakang klenteng yang berdiri sekarang. Dan dibelakang kelenteng yang sudah berusia 117 tahun sudah berusia 117 tahun  ini terdapat sekolah tionghoa jaman dahulu kala yakni Sekolah Tiong Hoa Hwee Koan Surabaya atau sekarang dikenal dengan TK Tri Pusaka.



Dengan bantuan dari para donatur, bangunan kelenteng kemudian dipindahkan  ke areal yang lebih luas di raya Kapasan nomor 131, hingga sekarang.Nama-nama donatur pemindahan kelenteng itu diabadikan pada prasasti yang berada di samping ruangan kelenteng.



Konon, di dunia cuma ada 3 kelenteng yang seperti Boen Bio ini yaitu  di kota asli tempat Konghucu lahir di Tiongkok, Jepang, dan di Surabaya - Indonesia.

Plakat yang ada tepat di atas altar sembahyang merupakan plakat asli dari raja tiongkok untuk membuktikan Klenteng Boen Bio ini adalah tempat peribadatan. 

 
Tulisan plakat di atas ini berartikan “Berkumandang ke Selatan” (Sen Diau Nan Cing) dimana aliran konghucu mengalir ke selatan Tiongkok.

Lim Seeng Tee, pendiri industri  raksasa rokok Sampoerna, juga pernah berkutat di kelenteng  Boen Bio. Dia juga  pernah sekolah Tiong Hoa Hwee Koan, yang terletak di dekat Boen Bio. 
 
Dalam sejarahnya, Boen Bio ternyata juga merupakan " benteng terakhir " umat Khong Hu Chu pada saat itu dalam menghadapi Kristenisasi di kalangan orang Tionghoa. 


Sejak 1907, pemerintah Hindia Belanda membuka Holland Chineesche School, sekolah-sekolah berbahasa Belanda untuk orang Tionghoa,  Selain itu Belanda juga  mendorong dan mendukung organisasi-organisasi Kristen Protestan dan Katolik, bikin untuk mendirikan sekolah-sekolah swasta. 
 
Tindakan Belanda itu membuat pihak dari Boen Bio khawatir  orang-orang Tionghoa akan meninggalkan agama leluhur mereka. Pada awal abad XX, Boen Bio bukan hanya rumah Ibadah. Ia juga menjadi tempat kegiatan Sosial orang-orang Tionghoa di Kapasan.

 Memasuki kelenteng ini di depan bangunan kelenteng terdapat  dua buah Pilar  berhias Naga  dengan detail,  ornamen dan warna kuning emas dan biru laut yang sangat indah. 
 
=======================================================================

Break Session :

Baca juga artikel-artikel menarik lainnya di Blog ini dengan Langsung KLIK Link di bawah ini atau kata-kata berwarna Biru lainnya :

Tips Jitu Untuk Meningkatkan Traffic Situs atau Blog  

OLeh-oleh Khas Tuban 

Bebatuan yang Indah Dan Bercahaya Di Lamongan
Monumen Pesawat Yang Legendaris Di Jawa Timur
Sensasi Memetik Teh Di Kebun Teh Kertowono
Kisah Batu Kodok Di Lamongan
Nasi Boran Yang Khas Dan Nikmat Di Lamongan

Merenda Kenangan Di Pantai Pasir Putih Situbondo
Budaya Minum Tuak Di Bumi Ronggolawe
Merajut Kenangan Indah Di Malioboro Yogyakarta

Busana Kerancang Betawi Yang Indah Dan Menawan 

Eksotisme Wisata Air Terjun Sri Gethuk

Swastika Ala Nazi Di Kelenteng Kwan Sing Bio 
Nuansa Seram Dalam Ritual Sumpah Pocong
Mengenang Gus Dur Di Kelenteng Boen Bio
Menikmati Surabaya Dengan Surabaya Heritage Track 
Legenda Kwan Kong Di Kelenteng Kwan Sing Bio


Suharto, Hercules Bergigi Baja Dari Tuban  
Masjid Aschabul Kahfie Di Dalam Gua Yang Unik 
Megahnya Istana Kaisar Di Kelenteng Kwan Sing Bio
Nostalgia Masa Kecil Di Museum Anak Kolong Tangga

Ovi, Gadis Hulk Yang Perkasa Dari Tuban 
Menguji Nyali Di Tebing Watu Ondo
Mengenang Fenomena Aneh Gadis Kristal Di Tuban
Camilan Ampo Yang Terbuat Dari Tanah 
Ongkek Yang Langka Di Museum Kambang Putih Tuban 

Dinding Jebol Jejak Pelarian Pangeran Diponegoro
Foto Rongten Korban Santet Di Surabaya
Mobil Rolls Royce Kuno Milik Dinasti Sampoerna




Jejak Bio



================================================================

Tepat di belakang pagar, terdapat sepasang patung Ciok Say, Singa Batu yang bermakna simbolis sebagai penjaga pintu masuk kelenteng dan penolak roh jahat.


Di ruang utama Kelenteng Boen Bio  ini juga terdapat dua buah pilar naga, yang melambangkan Tiong Si (  tenggang rasa ) , yang berarti bahwa dalam hidup ini sesama manusia harus bisa saling bertenggang rasa.Tampak menempel pada gebyok Kayu di bagian tengah atas adalah plakat bertuliskan Sen Diau Nan Cing ( Berkumandang ke Selatan).
 

Plakat itu konon adalah pemberian langsung dari Kaisar Cina, yang melambangkan penyebaran ajaran Khonghucu ke bagian Selatan Cina. Plakat itu dihiasi dengan ornamen naga dengan Kepala di bawah yang melilit tiang, yang berisi Lampu-lampu kecil pada langit-langit kelenteng.

Yang menarik di kelenteng Boen Bio juga terdapat pajangan Foto Gus Dur, ulama besdar dan Presiden ke-4  RI sebagai penghormatan atas jasa-jasa Gus Dur yang  membuka kembali kebebasan umat Tionghoa dalam menjalankan aktifitas tradisi dan budaya mereka di Indonesia.

Selain itu, hal yang menarik lainnya adalah beberapa bagian kelenteng Boen Bio memiliki nuansa klasik dengan sentuhan Artistiknya.
Kelenteng Boen Bio merupakan salah satu kelenteng kuno dan bersejarah di Nusantara.

2 komentar: