Jumat, 04 Januari 2013

Wisata Sejarah Dan Perjuangan Di Makam Dr. Soetomo

Melintas di Jalan Bubutan di Kota Surabaya - Jawa Timur, terdapat sebuah bangunan yang berbentuk pendapa. Di bagian depan bangunan itu yang berada di tepi jalan, terdapat ornamen patung yang berbentuk sosok seorang pria dewasa yang mengenakan jas.

Sepintas, tak ada yang istimewa pada bangunan yang bernama Gedung Nasional Indonesia ( GNI ) itu. Tetapi bila kita memasuki kawasan gedung itu dan menyimaknya lebih lanjut, ternyata disana terdapat jejak sejarah perjuangan dr. Soetomo yang merupakan Pahlawan Nasional.
 dr. Soetomo merupakan tokoh pergerakan nasional. Banyak pemikiran dan kiprahnya yang mewarnai sejarah perjuangan bangsa Indonesia. Apalagi beliau juga merupakan salah satu pendiri gerakan nasional Boedi Oetomo.
 Seperti tertulis dalam prasasti di bawah monumen dr. Soetomo yang tercantum kutipan kata-katanya pada 11 Juli 1925 dan  berbunyi “Senantiasa berjuang kemuka jurusan kita, dengan tiada memperdulikan sendirian dan cela, bahkan tiada menyesali kehilangan dan keluarganya yang harus menderita dari barang-barang yang menyenangkan hidup kita sendiri. " .

dr. Soetomo mendirikan Boedi Oetomo pada tanggal 20 Mei 1908 bersama dengan dr. Wahidin Sudirohusodo, dr. Radjiman Wedyodiningrat, dr. Soeradji Tirtonegoro, dr. M Soelaiman, dr. R Tirtokusumo, dr. M Goembrek, dr. Angka Prodjosoedirdjo, dr. Moch Saleh, dr. Gunawan Mangunkusumo, dr. Cipto Mangunkusumo, dr. M Soewarno dan dr Gondo Soewarno. Ia dipercaya menjadi ketuanya. 

Tanggal berdirinya Boedi Oetomo ini kemudian ditetapkan pemerintah sebagai Hari Kebangkitan Nasional.Pada tanggal itu setiap tahunnya di gedung ini diadakan upacara Hari Kebangkitan nasional untuk mengenang sosok dan  kiprah perjuangan dr. Soetomo yang kemudian dilanjutkan dengan berziarah ke makam Dr. Soetomo di bagian belakang pendopo.

Pada hari-hari biasa, makam ini juga cukup ramai didatangi oleh pelajar, mahasiswa, dan pengunjung wisatawan lainnya.


Makam Dr. Soetomo tampak terbuka dan sederhana. Pusaranya berselubung kain putih dengan lantai yang berkeramik warna putih.Bangunan berbentuk cungkup yang berwarna putih menaungi makam itu. 
  
Di bagian depan cungkup terdapat tugu kecil yang memajang foto Dr. Soetomo dengan tulisan Bapak Pergerakan Nasional Indonesia.Sayang foto itu sudah tampak sangat buram sehingga tidak terlihat bentuk dan wujudnya.Taman yang asri dengan berbagai jenis tanaman menghiasi sekitar makam ini.

Bangunan pendapa di bagian depan yang cukup megah itu merupakan gedung serba guna yang biasanya digunakan sebagai tempat seminar, resepsi pernikahan, gelar kesenian dan sebagainya.

---------------------------------------------------------------------------------------------------

Break Session :

Baca juga artikel-artikel menarik lainnya di Blog ini dengan Langsung KLIK Link di bawah ini atau kata-kata berwarna Biru lainnya :
  
OLeh-oleh Khas Tuban 

Swastika Ala Nazi Di Kelenteng Kwan Sing Bio 
Nuansa Seram Dalam Ritual Sumpah Pocong
Mengenang Gus Dur Di Kelenteng Boen Bio
Menikmati Surabaya Dengan Surabaya Heritage Track 
Legenda Kwan Kong Di Kelenteng Kwan Sing Bio


Suharto, Hercules Bergigi Baja Dari Tuban  
Masjid Aschabul Kahfie Di Dalam Gua Yang Unik 
Eksotisme Tradisi dan Budaya Dalam Pengantin Betawi
Megahnya Istana Kaisar Di Kelenteng Kwan Sing Bio
Nostalgia Masa Kecil Di Museum Anak Kolong Tangga

Ovi, Gadis Hulk Yang Perkasa Dari Tuban 
Menguji Nyali Di Tebing Watu Ondo
Mengenang Fenomena Aneh Gadis Kristal Di Tuban
Camilan Ampo Yang Terbuat Dari Tanah 
Ongkek Yang Langka Di Museum Kambang Putih Tuban 

Dinding Jebol Jejak Pelarian Pangeran Diponegoro
Foto Rongten Korban Santet Di Surabaya
Mobil Rolls Royce Kuno Milik Dinasti Sampoerna









================================================================
Pada dinding Gedung Nasional Indonesia itu terdapat prasasti yang terbuat dari batu marmer yang bertanggal 17 Agustus 1961 dan tercantum nama Presiden Soekarno sebagai pemimpin besar Revolusi. Prasasti itu bertuliskan tentang penghargaan dari pemerintah yang berbentuk bangunan sebagai tanda terima kasih dan  penghormatan atas jasa para pahlawan.

Sedangkan pada halamannya juga terdapat monumen dengan prasasti yang menjelaskan bahwa Gedung Nasional Indonesia itu merupakan tempat pusat pergerakan Partai Indonesia Raya ( Parindra ) di bawah pimpinan dr. Soetomo, tempat pembentukan Komisi Nasional Indonesia ( KNI ), tempat pembentukan Badan Keamanan Rakyat ( BKR ), serta pembentukan Pemuda Putri Republik Indonesia dan salah satu lokasi terjadinya pertempuran 10 November 1945 antara pejuang arek-arek Suroboyo dan tentara sekutu.

Di dinding gedung  itu juga terdpajang foto Dr. Soetomo yang juga sudah tampak kusam.Pada tahun 1996 , Gedung Nasional Indonesia ditetapkan sebagai Bangunan Cagar Budaya dengan SK Walikota No. 188.45/251/402.104/1996 no urut 1.

Di sekitar Gedung Nasional Indonesia juga terdapat banyak gedung kuno lainnya seperti Gedung Poliklinik Umum PMI kota Surabaya yang dulunya pernah dibom oleh tentara Sekutu dan gedung Majalah Panjebar Semangat yang berbahasa Jawa yang masih bertahan sampai saat ini.

Dr. Soetomo merupakan pemuda pribumi sederhana yg dilahirkan di Desa Ngepeh, Nganjuk pada 30 Juli 1988. Tetapi pemikirannya begitu luar biasa untuk kemajuan, kehormatan dan harga diri bangsanya. Dengan bekal ilmu kedokteran yg dimilikinya sejak lulus 1911,  dr. Soetomo memulai pengabdiannya kepada masyarakat di Semarang, Tuban hingga Lubuk Pakam, Sumatera Timur. Jiwa nasionalismenya pun makin subur, tanpa lelah ia melayani masyarakat di dalam dan luar Pulau  Jawa sambil menyebarkan paham kebangsaan Boedi Oetomo.
 
Yang menarik adalah  kisah cinta dr. Soetomo dengan perawat Belanda bernama Everdina Broering yang kemudian dia nikahi beberapa tahun kemudian. Jalinan kisah cintanya itu pada awalnya sempat ditentang dan memantik protes dari rekan-rekan pergerakannya karena menurut mereka bagaiman bisa seorang tokoh pergerakan nasional dan kebangsaan justru menikah dengan wanita yang berkebangsaan Belanda yang notabene dulunya pernah menjadi penjajah di negeri ini selama ratusan tahun.

Prestasi dr. Soetomo selama mengabdi sebagai dokter pada akhirnya mendorong pemerintah Hindia Belanda memberinya beasiswa mendalami Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin selama empat tahun di Belanda pada tahun 1919.

Everdina Broering meninggal dunia pada tanggal 17 Pebruari 1934 yang kemudian disusul dengan wafatnyadr. Soetomo pada 29 Mei 1938 di usia 50 tahun.Sosok tentang dr. Soetomo  mengingatkan saya pada lembaran uang kertas senilai Rp 1000 emisi tahun 1980.


Bagi penikmat wisata sejarah dan perjuangan bangsa, bangunan Gedung Nasional Indonesia dengan makam dr. Soetomo ini patut masuk dalam daftar kunjungan Anda di Surabaya.

 Apalagi lokasinya hanya berjarak kurang dari 1 km dari kawasan wisata sejarah Monumen Tugu Pahlawan.



1 komentar: