Kamis, 21 Februari 2013

Koleksi Benda Menyeramkan Di Museum Kesehatan


Ada Yang Menarik dengan Museum Kesehatan Dr. Adhytama, MPH di Kota Surabaya. Di museum yang berlokasi di Jalan Indrapura ini selain memiliki koleksi benda-benda yang berkaitan dengan sejarah dan dunia kesehatan, ternyata juga ada koleksi benda-benda yang cukup menyeramkan.

Benda-benda yang berada di ruangan Sasana Budaya dan Kesehatan Tradisional itu identik dengan dunia mistik dan gaib.
_____________________________________ 
____________________________________
             
 Koleksi yang bernuansa horor ala Dunia Lain itu diantaranya adalah Boneka Jailangkung dan Nini Towok, Tengkorak Manusia, Kotak Abu Jenazah dan Peti Mati

1. Boneka Jailangkung dan Nini Towok 

Yang menarik adalah adanya dua boneka  ‘ Jailangkung dan Nini Towok ‘ yang kerangkanya terbuat dari kayu dan diberi pakaian ala manusia. Boneka yang pada bagian kepalanya menggunakan batok kelapa yang  diberi rambut dan dilukis wajah manusia.




Boneka Jailangkung dan Nini Towok ini biasa digunakan untuk mengundang roh atau arwah untuk berbagai keperluan. Pada masa lampau, Jailangkung dan Nini Towok ini sering dipentaskan sebagai hiburan rakyat  usai panen padi dan hasil pertanian lainnya.
Gambar Jailangkung
Kedua boneka itu terbuat dari gayung air yang menggunakan kerangka  yang berbentuk huruf T dari bahan bambu  dan tempurung  kelapa. Tempurung kelapa itu ditempatkan pada bagian atas dengan posisi menghadap ke muka.


 
Pada bagian depan tempurung tersebut dilukis dengan ornamen  yang berbentuk wajah manusia lengkap dengan rambut buatan.



Pada bagian tengah boneka diberi sebatang bambu yang pada ujungnya diberi  kapur tulis atau alat tulisnya. Setelah pawang atau Dukun melakukan ritual  dengan membaca mantera-mantera khusus untuk mengundang roh-roh dari alam gaib, Jailangkung dan Nini Towok yang dipegangi pada bagian bawahnya itu akan bergerak sendiri dengan meloncat-loncat  dan berputar-putar.



Sambil bergerak-gerak itulah, Jailangkung dan Nini Towok akan menggerakkan kapur atau alat tulis lainnya pada batang bambu dan lembaran papan atau kertas yang telah  disediakan sebelumnya. 
______________________________________________ 
 Dapatkan Poin Gratis Di Surfactif 
   


_______________________________________________

Boneka – boneka gaib itu akan menuliskan informasi singkat tentang keterangan yang dibutuhkan oleh sang dukun atau orang yang berhubungan dengan dukun tersebut.

2. Tengkorak Manusia


Untuk koleksi Tengkorak dan tulang belulang manusia  ini ditempatkan dalam sebuah kotak kecil yang berukuran sekitar 35 cm x 50 cm. Di dalam kotak itu, tengkorak dan tulang belulang manusia  bercampur dengan tanah  kering

Bilah-bilah bambu dipasang di bagian atasnya yang semakin menambah kesan angkernya. Kotak kecil itu kemudian diselubungi dengan lembaran plastik bening agar tidak dipegangi oleh pengunjung museum.
 
Sayang tidak disebutkan tengkorak manusia itu merupakan tengkorak  siapa dan kapan diperolehnya. Dari penjelasan Bapak Sartono sebagai petugas museum, tengkorak dan tulang belulang manusia itu merupakan sumbangan dari sebuah rumah sakit di Surabaya .

Sebelumnya  tengkorak dan kerangkanya itu digunakan sebagai obyek studi dan penelitian oleh mahasiswa kedokteran dan keperluan pengetahuan lainnya.
 
3.Kotak Abu Jenazah dan Guci Tulang Belulang


Di dekat kotak yang berisi tengkorak dan tulang belulang manusia itu juga terdapat kotak kecil  yang juga  terbuat dari kayu.

 Kotak yang merupakan sumbangan dari seorang warga dari Kalimantan Timur itu digunakan untuk menyimpan abu jenazah.

Begitu juga dengan guci keramik setinggi sekitar 50 cm yang berada di sampingnya juga berfungsi untuk menyimpan tulang belulang manusia.


 4. Peti Mati 

Masih berada dalam satu deretan, ada juga koleksi yang tak kalah menyeramkan. Koleksi itu berupa peti mati yang terbuat dari kayu dan merupakan peti jenazah milik keluarga dari perintis Museum Kesehatan ini yaitu  Bapak  Profesor Harijadi Soeparto.
Ada kisah yang menarik tentang peti mati itu karena kondisinya yang bekas pakai dan  sebelumnya digunakan untuk meletakkan jenazah dan menguburnya di dalam tanah selama beberapa waktu.
Keluarga besar jenazah tersebut berkeinginan mengganti peti mati itu dengan peti mati yang baru, peti mati itu kemudian diangkat kembali dari dalam kubur dan jenazahnya kemudian  dipindahkan ke dalam peti mati yang baru.
Uniknya, peti mati itu sendiri statusnya hanya dititipkan untuk sementara waktu saja. Karena Bapak Dr. Harijadi Soeparto , DOR, Msc. APU yang saat ini masih hidup sudah berwasiat dan  berpesan akan menggunakan peti mati itu kelak jika  beliau sudah meninggal. Artinya, peti mati itu kelak  tidak bisa dijumpai lagi di museum ini karena menjadi ‘ rumah  masa depan ‘ bagi perintis Museum Kesehatan itu.

Peti mati itu sendiri bisa dibuka. Dan isi di dalamnya cukup mengagetkan juga karena ternyata di dalamnya terdapat lapisan kain dan bantal yang berwarna putih. Selain itu juga terdapat sebuah peti mati yang berukuran lebih kecil dan sudah lapuk pada beberapa bagiannya.
  
Peti mati kecil yang berasal dari kompleks makam  Tjitrosoman di Tuban itu dulunya juga telah digunakan dan diangkat dari dalam kubur untuk dipindahkan jenazahnya ke peti mati yang baru.

Koleksi berupa tengkorak dan tulang belulang manusia, guci  dan kotak menyimpan abu jenazah  dan dengan adanya peti mati yang telah digunakan itu disana membuat  saya tidak bisa membayangkan bagaimana seramnya suasana di ruangan ini bila malam hari.


Free Trial 41.000 Movies  + TV  Episode = Amazon Prime 

======================================================================

Dijual Tablet Smartfren New Andromax Tab 7.0 


Hadiah Lomba dari Vivanews. 

Kondisi 100% Baru, Lengkap dan Tersegel.

Harga Penawaran Rp 1,5 juta

Barang Langka - Stock Galeri Smartfren Sudah Kosong Lama

Harga Tablet Smartfren New Andromax Tab 8.0 Rp 2,3 juta

Kontak Agung - 0823 3388 7121

======================================================================



 ====================

===============

Artikel-artikel Menarik lainnya bisa Anda baca 

di Link berikut ini :




2 komentar: