Kamis, 27 Desember 2012

Mengenang Gus Dur Di Kelenteng Boen Bio

Nama KH. Abdurrahman Wahid atau lebih dikenal dengan nama Gus Dur terasa abadi bagi umat Tionghoa di nusantara. 

Karena jasa beliau dalam membuka kembali  budaya dan tradisi etnis Tionghoa melalui kebijakannya selama menjabat sebagai Presiden Republik Indonesia.


Walau beliau telah wafat pada beberapa tahun yang lalu, nama dan sosoknya senantiasa dikenang oleh umat Tionghoa. Salah satunya adalah kelenteng Boen Bio di Surabaya yang memajang foto Gus Dur di ruangan utama kelenteng.

 Kelenteng Boen Bio adalah salah satu kelenteng tua di Kota Surabaya. Kelenteng ini berada di tepi Jalan Raya Kapasan, tak jauh dari Pasar Kapas Krampung.Ada yang Menarik di Ruangan di dalam kelenteng ini karena Terpajang foto KH. Abdurrahman Wahid atau yang lebih dikenal dengan nama Gus Dur.

Foto Gus Dur itu terpajang dalam bingkai foto di depan Altar utama pada bagian sebelah kiri. Sedangkan pada sebelah kanan altar Utama itu terdapat Arca Nabi Kong Hu Cu atau Kong Co.

Gus Dur merupakan sosok yang dihormati oleh warga Tionghoa.
 
Berkat jasa Gus Dur pada masa pemerintahannya, warga Tionghoa bisa kembali mendapatkan kebebasan untuk melaksanakan tradisi, Budaya dan adat-istiadatnya di Indonesia.

Sebuah hal yang sebelumnya dilarang dilakukan oleh mereka selama masa Orde Baru berdasarkan Inpres no 14 tahun 1967 yang menetapkan larangan bagi penyelenggaraan semua kegiatan Keagamaan,Tradisi,  kepercayaan dan adat-  istiadat Cina di Indonesia.


Ketika menjabat sebagai Presiden RI ke-4, Gus Dur menerbitkan Kepres No. 6 tahun 2000, yang bertujuan untuk  mencabut Inpres Nomor 14 Tahun 1967 yang dikeluarkan Pemerintah Orde Baru.

Sejak tahun 2001, Gus Dur juga menetapkan Imlek sebagai hari libur fakultatif dan kemudian berlanjut sebagai hari libur nasional dengan terbitnya Kepres no 19 tahun 2002 pada masa pemerintahan Presiden Megawati.

Berkat jasa Gus Dur itu etnis Tionghoa di Indonesia bisa melakukan ibadah dengan adat, tradisi dan budayanya.
Karena itu, rasanya tak belebihan bila umat kelenteng Boen Bio memajang foto Gus Dur di dalam kelenteng.

Pemajangan foto Gus Dur itu untuk mengenang sosok Gus Dur yang wafat pada tgl 30 desember 2009 dan dimakamkan di Jombang.Sekaligus sebagai bentuk penghormatan dan rasa terima kasih mereka pada Gus Dur.

Klenteng Boen Bio adalah benteng terakhir pertahanan agama Khong Hu Chu di Surabaya. Awalnya klenteng ini bernama Boen Thjiang Soe, berdiri pada tahun 1883, terletak di jalan Kapasan 131, Surabaya.

Kuil yang megah untuk ukuran kala itu sangat sayang bila tempatnya di dalam kampung.[1] Tahun 1903 Kang You Wei, seorang reformis Tiongkok, berkunjung di kuil ini dan mengusulkan untuk memindahkannya di pinggir jalan.

Setelah mendapat sumbangan tanah seluas sekitar 500 m2 dari Mayor The Toan Ing maka pengurus lalu memulai pembangunan dan relokasi. Biayanya ditutup dari derma serta sumbangan uang hasil denda yang diperoleh para saudagar Tionghoa yang memenangkan perkara dari HVA (Handels Vereeniging Amsterdam) di pengadilan.

Pemugaran kembali akhirnya selesai tahun 1906 dan menjadi Boen Bio. Nama para dermawan tertulis dalam prasasti yang menempel di bangunan Boen Bio. Boen (bahasa Fujian), Wen (bahasa Mandarin) atau Van (bahasa Vietnam) berarti Sastra/budaya. Dan Bio (bahasa Fujian), Miao (bahasa Mandarin) dan Mieu (bahasa Vietnam) adalah kuil/klenteng. Jadi Boen Bio / Wen Miao / Van Mieu adalah Kuil Kesusastraaan.

Free Trial 41.000 Movies  + TV  Episode = Amazon Prime 

======================================================================

Dijual Tablet Smartfren New Andromax Tab 7.0 


Hadiah Lomba dari Vivanews. 

Kondisi 100% Baru, Lengkap dan Tersegel.

Harga Penawaran Rp 1,5 juta

Barang Langka - Stock Galeri Smartfren Sudah Kosong Lama

Harga Tablet Smartfren New Andromax Tab 8.0 Rp 2,3 juta

Kontak Agung - 0823 3388 7121

======================================================================



 ====================

===============

Artikel-artikel Menarik lainnya bisa Anda baca 

di Link berikut ini :




Tidak ada komentar:

Posting Komentar