Selasa, 25 Desember 2012

Penambangan Minyak Tradisional Yang Unik Di Bojonegoro

Di tengah serbuan operator minyak raksasa dan multinasional di daerah Bojonegoro - Jawa Timur, ternyata disana ada aktifitas warga setempat yang menambang minyak secara tradisional. Aktifitas itu telah mereka lakukan sejak lama dan berlangsung sampai saat ini yang menjadi salah satu roda penggerak perekonomian warga.

Sangat menarik berkunjung dan menyimak aktifitas penambangan minyak secara tradisional disana. Sayang pemerintah daerah setempat tak menyadari potensi wisata yang unik dan langka itu sebagai wisata andalan. Padahal dengan sentuhan kreatifitas dari pemerintah, aktifitas penambangan minyak oleh warga itu bisa dikemas menjadi wisata unggulan  mengingat begitu minimnya destinasi wisata di Bojonegoro.


Potensi wisata itu adalah Penambangan minyak Tradisional yang banyak terdapat di salah satu kawasannya yaitu di Desa Wonocolo Kecamatan Kedewan dan desa di sekitarnya.
Para warga menambang minyak di titik-titik sumur minyak peninggalan Belanda. Dengan berbekal peta Lama yang memuat denah dengan lokasi titik-titik sumur minyaknya, warga dengan bekerja secara berkelompok dan bersama-sama kemudian mencari, menggali dan menambang sumur minyak itu.
Sumur-sumur itu dulu memang pernah digunakan dan dioperasikan fungsinya oleh Belanda pada Jaman Penjajahan.

Setelah Belanda kalah perang dan sebelum meninggalkan Indonesia, mereka menimbun sumur-sumur minyak itu dengan Tanah karena Belanda tidak ingin bangsa Indonesia menggunakan dan menikmati hasil minyak dari sumur-sumur itu.
Ada sekitar seratusan lebih sumur minyak yang terdapat di daerah Wonocolo ini. Bentuk penambangan sumur itu sangat khas dengan adanya tonggak-tonggak kayu yang kokoh, Warna Merah dari nyala api pada tungku pembakaran dengan asap hitamnya yang membumbung tinggi .

Proses , pengolahan dan peralatan penambangan minyak itu juga dilakukan dengan sangat sederhana.
Dengan menggunakan tenaga mesin dari kendaraan truk yang sudah uzur, minyak mentah yang disebut lantung dan berwarna coklat pekat itu ditimba dengan menggunakan sling baja dan timba besi yang disebut dengan Timbel.
Timbel itu berbentuk seperti peluru dengan panjang sekitar 3 meter yang dilengkapi dengan katup di bagian pucuknya.

Ketika timbel terangkat ke permukaan tanah, petugas yang berjaga di sekitar sumur kemudian menggulingkan timbel itu untuk mengalirkan Lantung ke Bak penampungan.
 ---------------------------------------------------------------------------------------------------

Break Session :

Baca juga artikel-artikel menarik lainnya di Blog ini dengan Langsung KLIK Link di bawah ini atau kata-kata berwarna Biru lainnya :
  








================================================================
  
Di Bak penampungan itu, Lantung yang masih bercampur dengan Air pun mulai memisah antara air dan minyak mentahnya.

Minyak mentah itu tampak berwarna hitam dengan mengumpul dan mengapung di permukaan air.
Oleh petugas lainnya, lantung murni itu kemudian diserok dan ditampung di jerigen-jerigen yang selanjutnya dibawa ke tungku pemanasan.
Di tungku pemanasan itulah dengan melalui proses destilasi atau penyulingan dengan tingkat panas tertentu, lantung akan menjadi bahan bakar lainnya seperti bensin, minyak tanah atau solar.
Biasanya penambang akan mengolah lantung itu menjadi solar karena mudah pemasarannya dan masing-masing titik sumur  sudah ada bakul langganan tetapnya.
Solar hasil dari penambangan minyak tradisional ini banyak diminati oleh para sopir Angkutan Umum yang ingin menekan biaya operasional karena harganya yang lebih Murah dari harga solar di pasaran.

Andai Pemerintah daerah setempat menyadari akan potensi wisata yang terpendam dari penambangan minyak tradisional ini, tentu mereka akan menjadikannya sebagai kawasan dan destinasi wisata alternatif di Bojonegoro.


Artikel-artikel Menarik lainnya bisa Anda baca 

di Link berikut ini :




Tidak ada komentar:

Posting Komentar