Senin, 10 Desember 2012

Pakaian Dokter Di Jawa Pada Masa Lampau


Pakaian kerja yang digunakan oleh Dokter ternyata tak hanya identik dengan warna putih atau  warna terang dan bernuansa lembut  lainnya.  Tetapi ada juga dokter yang mengenakan pakaian kerja yang berwarna gelap yaitu serba hitam. 
  
Bentuk pakaian kerja dokter itu juga tampak unik dan khas karena menggunakan busana tradisional Jawa yang berupa Beskap dan  lengkap dengan aksesorisnya berupa blangkon, stagen, kain batik dan keris yang mencuat di belakang punggungnya.


Sebuah lencana menghiasi dada sang dokter.Begitulah gambaran pakaian kerja dokter yang bertugas  di Pulau Jawa pada masa lampau.

Pakaian dokter itu menjadi salah satu koleksi yang menarik yang berada di Museum Kesehatan Dr. Adhyatma, MPH. yang berada di Jalan Indrapura – Surabaya , Jawa Timur.
Koleksi itu ditempatkan dalam sebuah etalase kaca.Di etalase itu terpajang sebuah baju Beskap dengan kainnya yang sangat tebal. Di bagian bawah terdapat blangkon dan  stagen.

Stagen yang berupa gulungan kain yang tebal dan selebar sekitar 15 cm  dan panjang sekitar 1,2 meter itu digunakan sebagai pengganti sabuk untuk mengencangkan kain batik yang menjadi penutup bagian bawah tubuh sang pasien.

Tentu bisa dibayangkan bagaimana terbatasnya gerakan dan aktifitas sang dokter dengan pakaian yang sangat ketat itu bila dibandingkan dengan pakaian kerja dokter era modern yang terkesan ringan , sederhana dan praktis. 

Selain koleksi berupa pakaian Beskap dan perlengkapannya, ada juga koleksi yang berupa Kartu Tanda pengenal Dokter yang berdinas. Kartu itu berupa lembaran kertas yang tampak berwarna kusam dengan tulisan cetak tangan dalam bahasa Belanda dan foto sang dokter.
 
Sebagai kilas balik sejarah dikter di Jawa , pada Bulan Januari 1851  merupakan awal rintisan dibukanya pendidikan kedokteran bagi pemuda Indonesia. Sejumlah pemuda pribumi dididik di Rumah Sakit Militer Weltevreden dengan 15 mata ajaran.

Jika awalnya murid-murid kursus hanya berasal dari pulau Jawa, maka selanjutnya diterima 6 murid dari luar Jawa, yaitu 2 orang dari Sumatera Barat, 2 orang dari Minahasa, dan 2 lagi dari pulau-pulau yang lain. Sistim pendidikan pun diubah menjadi 3 tahun, dan lulusan sekolah tersebut diberikan gelar Dokter Jawa. Kursus Juru Kesehatan itu pun berubah nama menjadi Sekolah Dokter Jawa.

 
Pada perjalanannya, sekolah Dokter Jawa berkembang menjadi School tot Opleiding van Inlandsche Artsen (STOVIA) yang berperan dalam mengukir sejarah perjalanan bangsa ini. Peningkatan 'status' sekolah ini tidak terlepas dari peran Dr. H.F. Rool, Direktur Sekolah Dokter Jawa periode 1896-1899 dan kemudian menjadi pimpinan STOVIA dari tahun 1901–1908.

STOVIA resmi berdiri tahun 1900. Sisa-sisa murid Sekolah Dokter Jawa yang masih ada, tidak lagi dicetak sebagai Dokter Jawa, namun meneruskan pelajarannya di STOVIA. Kurun waktu 1903-1904 STOVIA telah berhasil menghasilkan 11 orang Inlandsche Artsen (dokter bumiputra).

Dengan gelar tersebut, para lulusan berhak mempraktekkan ilmu kedokteran yang mereka dapatkan. Lama pendidian yang harus dilewati pun telah bertambah menjadi 9 tahun.


Di bagian lainnya terdapat koleksi foto lama beberapa dokter yang berfoto bersama ketika menenmpuh pendidikan kedokterannnya.Mereka adalah dokter dari lulusan SMP yang melanjutkan pendidikannya ke Indisch Art.

Pada dindingnya   terpajang foto Dokter Hindia Perempuan Yang Pertama   yaitu Padoeka Nona M. Thomas, foto Dokter Jawa yang mengenakan busana adat Jawa lengkap dengan kain batik, surjan dan blangkon dan foto beberapa dokter lulusan SMP  yang melanjutkan ke Indisch Art.

Sedangkan untuk berkas dokumen terdapat pajangan  beberapa ijazah dokter  lintas jaman. Diantaranya terdapat  ijazah atas nama KASDOE tertanggal 20Oktober  1874. 

Ijazah yang ditandatangani di Batavia itu cukup unik dan menarik  karena  tertulis dalam  tiga bahasa dan aksara sekaligus yaitu bahasa Belanda, Jawa dan Arab.
 
Berkas  berikutnya yang juga ditandatangani di Batavia bertahun 1932  dengan berbahasa Belanda  atas nama Raden Soeparto Setjodiharjo untuk ijazah Diploma Van Indische Arts.

Berkas Ijazah ini  dalam  keadaan yang cukup terawat dengan baik dan dilengkapi dengan berkas-berkas lainnya.

Sedangkan berkas  atas nama Mr. Kastinah untuk ijazah Diploma Voor  Mantri. Sayang keadaan ijazah ini tampak kusam dengan terdapat beberapa bercak. Selain itu juga sedikit terkelupas dan lapuk pada beberapa bagiannya karena  faktor  usia berkas yang sudah sekian puluh tahun lamanya.

Bagi Anda yang berkunjung ke Museum Kesehatan , terutama yang  beraktifitas dalam dunia medis dan kedokteran,dengan  melihat koleksi benda-benda tersebut akan memberi pengalaman yang menarik dan berbeda tentang sepenggal sejarah kedokteran di nusantara

 ==============================================================
Free Trial 41.000 Movies  + TV  Episode = Amazon Prime 

======================================================================

Dijual Tablet Smartfren New Andromax Tab 7.0 


Hadiah Lomba dari Vivanews. 

Kondisi 100% Baru, Lengkap dan Tersegel.

Harga Penawaran Rp 1,5 juta

Barang Langka - Stock Galeri Smartfren Sudah Kosong Lama

Harga Tablet Smartfren New Andromax Tab 8.0 Rp 2,3 juta

Kontak Agung - 0823 3388 7121

======================================================================



 ====================

===============

Artikel-artikel Menarik lainnya bisa Anda baca 

di Link berikut ini :





Tidak ada komentar:

Poskan Komentar