Rabu, 05 September 2012

Pesona Wisata Guci Alit Di Lumajang


Kabupaten Lumajang – Jawa Timur memiliki banyak daerah yang berada di kawasan dataran tinggi. Salah satunya adalah kawasan Guci Alit yang berlokasi sekitar 35 km dari pusat kota.

Di daerah Guci Alit terdapat sebuah destinasi wisata yang cukup menarik, yaitu Kawasan Perkebunan Teh  Guci Alit atau yang biaa disebut  dengan nama Kebun Kertowono. Kawasan ini berada di bawah naungan PT. Perkebunan Nasional XII ( PTPN XII)  dengan komoditi andalan berupa  teh  dari hasil kebun tehnya yang sangat luas.
  
Tanpa menggunakan kendaraan pribadi, cukup susah juga untukm menuju ke lokasi wisata ini karena minimnya angkutan umum yang menuju  ke sana. Memang ada banyak ojek motor di Kota Lumajang. Namun umumnya mereka menerapkan tarif  ojek yang cukup  mahal untuk menuju ke Guci Alit. 

Setelah mencari informasi dan bertanya tentang akses jalan dan transportasi untuk menuju ke Guci pada petugas, dari  terminal Menak Koncar atau Terminal Wonorejo  di Lumajang, saya memilih naik angkutan umum jenis kendaraan L 300 yang menuju ke pertigaan Wringin.
Dari Wringin ini saya kemudian akan melanjutkan perjalanan dengan oper kendaraan sejenis yang menuju ke Guci Alit.

 
Namun ternyata, sangat jarang sekali angkutan umum itu yang menuju ke lokasi. Setelah menunggu sekitar 3 jam, barulah ada sebuah kendaraan angkutan  umum itu dengan ongkos Rp 5000 ke Guci Alit.

Karena berada di dataran tinggi, perjalanan menuju ke Guci Alit melintasi jalan yang terus menanjak.Setelah perjalanan selama 45 menit, akhirnya saya pun sampai di Guci Alit.
  
Sebuah gerbang yang bertuliskan nama salah satu  perusahaan BUMN  berada di bagian depan  kawasan wisata. Setelah memasuki  kawasan perusahaan dan meminta izin kepada petugas sekuriti, saya pun segera menikmati keindahan wisata di Guci Alit.

Sebagai catatan, karena menyangkut tentang sebuah perusahaan negara yang cukup besar, tanpa  ada izin dari pimpinan perusahaan, pengunjung tidak diperbolehkan memotret  pabrik teh  yang ada di dalam kawasan  ini.




Di kawasan ini panoramanya cukup indah dan  menarik dengan hawa yang sejuk khas daerah pegunungan. Taman dengan beraneka jenis tanaman tampak asri menghiasi suasana.
 
Di sekitar pabrik teh terdapat rumah dinas pimpinan perusahaan yang merupakan bangunan lama masa kolonial Belanda.

Sambil menikmati suasana di kawasan perusahaan ini, saya kemudian melanjutkan perjalanan menuju ke perkebunan teh dengan menyusuri panorama alamnya yang menawan.


Dalam perjalanan itu tampak deretan rumah milik karyawan perusahaan ini dengan bangunan yang didominasi warna kuning dan merah. Rumah warga itu tampak indah karena terdapat taman dan kebun dengan beraneka jenis tanaman.


Perjalanan saya kemudian sampai di kawasan wisata Guci Alit yang berupa kawasan hutan alami dengan vegetasi beraneka jenis tanaman keras. Di kawasan ini terdapat tangga untuk menaiki bukit. Ada juga  beberapa gazebo atau gardu pandang sebagai tempat untuk bersantai bagi pengunjung.

Bongkahan batu besar yang tersebar di berbagai penjurunya menghiasi kawasan ini. Yang menarik, sebenarnya ada juga air terjun  disana. Namun sayang karena saat berada di sana sedang musim kemarau, air terjun itu tampak kering. Jalur pada lintasan sungainya  pun hanya menampakkan bongkahan batu besar.


Beberapa pengunjung tampak menikmati pesona keindahan wisata di Guci Alit. Mengingat  lokasi wisata ini yang berada di kawasan hutan alami, ada baiknya bagi pengunjung untuk berhati-hati ketika sedang berada di sana. 

Karena mungkin saja di balik pepohonan, semak-belukar dan bebatuan besar itu terdapat binatang berbisa seperti ular, kelabang, kalajengking dan sebagainya. Untuk memasuki kawasan wisata Guci Alit ini  sendiri tidak dikenakan tiket masuk bagi pengunjung.




4 komentar: