Minggu, 18 November 2012

Sisi Kekerasan Pada Satwa Dalam Karapan Sapi

Eksploitasi Pada Satwa. Itulah sisi lain yang tampak dalam pelaksanaan lomba karapan sapi yang menjadi tradisi dan budaya di Pulau Madura.Hal itu terlihat dari penggunaan kekerasan dalam berbagai cara yang dilakukan pada sapi agar menjadi pemenang dalam lomba karapan itu.


Bila melihat karapan sapi ini dari jarak kejauhan dan saat melaju kencang di lintasannya, praktek kekrasan itu mungkin tidak tampak. Namun jika kita melihatnya saat sapi yang akan diadu itu sedang dipersiapkan di lintasan garis startnya, barulah kita bisa mengetahui sisi kekerasan pada satwa itu.
 
Keriuhan dan kesibukan yang bercampur ketegangan sangat terasa di garis start itu. Sekumpulan opria dewasa sedang mempersiapkan segala sesuatunya yang berkaitan dengan sapi mereka yang akan diadu.


Selain menyiapkan perlengkapan dan bocah laki-laki sebagai jokinya, sapi sebagai jagoan itu juga mendapat perlakukan khusus.


Bila sebelum perlombaan, sapi itu menadapat perlakuan yang cukup istimewa dengan mendapatkan pijatan pada tubuhnya dengan jamuan makanan dan jamu penunjang staminanya agar bisa tetap prima dan fit dalam menghadapi pertandingan.

 Tetapi menjelang detik-detik perlombaan justru perlakukan itu bisa berubah menjadi sangat menyiksa bagi sang Sapi.

Betapa tidak, berbagai cara dan upaya dilakukan oleh tim sukses masing-masing peserta itu agar sapi jagoan mereka bisa melaju kencang sehingga bisa menang dan menjadi juara dalam karapan sapi. 

Diantara cara itu tampak mengandung kekerasan seperti menyiramkan cairan yang terasa panas pada tubuh dan kaki sapi.

Dengan kandungan bahan-bahan tertentu yang bisa menimbulkan efek yang panas itu diharapkan bisa membuat sapi merasa kepanasan dan melaju dengan sangat kencang. cairan itu ada yang mereka buat sendiri sata membelinya di toko. 
  
 Ada juga yang mengkombinasi antara bahan keduanya agar menadapatkan efek sengatan dan panas  yang lebih kuat .

Bahkan yang memprihatinkan , ada juga orang yang membawa sebotol cairan spiritus. Cairan itu juga untuk dilumurkan pada tubuh dan kaki sapi. Tentu bisa dibayangkan bagaimana pengaruh spiritus itu pada sapi.

---------------------------------------------------------------------------------------------------

Break Session :

Baca juga artikel-artikel menarik lainnya di Blog ini dengan Langsung KLIK Link di bawah ini atau kata-kata berwarna Biru lainnya :
  






================================================================

Pada tubuh sang sapi terutama pada bagian dekat pangkal ekornya juga tampak bekas luka yang masih belum mengering sepenuhnya. Luka itu ternyata bekas pukulan dari tongkat yang pada ujungnya dipasang banyak paku yang berujung tajam.Efek tusukan paku yang sangat menyakitkan itu tentu bisa dibayangkan juga pengaruhnya pada kecepatan dan gerak satwa itu.  

Penggunaan kekerasan pada sapi sebenarnya sudah mulai dilarang dalam pelaksanaan Lomba karapan Sapi Piala Presiden 2012 yang lalu di Pulau Madura. Toh dalam realitanya, masih ada juga peserta yang menggunakan faktor kekerasan itu pada sapinya.

Bagi pemilik sapi kerapan dan yang masih menerapkan kekerasan pada sapinya  dengan menggaruk pantat sapi dengan paku agar larinya kencang itu memang sangat tidak manusiawi.Sementara di kalangan pemilik sapi karapan sendiri muncul anggapan bahwa tanpa adanya praktik seperti itu tidak termasuk karapan.  


Sehingga mereka merasa  kurang puas jika sapinya tidak digaruk dengan paku. Mereka juga beranggapan praktik kekerasan itu sudah ada sejak lama dan menjadi tradisi dan budaya dalam karapan sapi. 

Padahal, semenjak  dulu karapan sapi dilakukan tanpa kekerasan. Joki karapan yang mengemudikan larinya sapi hanya menggunakan cambuk untuk membuat sapi-sapi yang beradu kecepatan itu lari.

Tentu tak semudah membalikkan telapak tangan untuk mengubah dan menghilangkan faktor kekerasan dalam pelaksanaan karapan sapi. Selain membutuhkan kesadaran hati nurani pemilik sapi karapan, juga butuh pendekatan yang intens melaui  tokoh masyarakat dan ulama . 


Selain itu dengan  pendekatan secara kultural dengan meminta kesepakatan agar para pemilik sapi tidak melakukan praktik kekerasan atau  dengan pendekatan secara hukum.
















Tidak ada komentar:

Posting Komentar